Perang Dingin di Manchester United

Harimurti

lintaswarta.co.id – Badai besar tengah menerjang internal Manchester United. Hubungan antara keluarga Glazer, pemilik mayoritas klub asal Amerika Serikat tersebut, dengan Sir Jim Ratcliffe kini berada di ambang keretakan hebat. Ketegangan ini dipicu oleh merosotnya performa tim di lapangan yang dianggap sebagai kegagalan fatal dalam visi kepemimpinan baru di bawah kendali grup INEOS.

Keluarga Glazer dilaporkan merasa sangat geram dan kecewa melihat arah yang diambil oleh Sir Jim Ratcliffe sejak masuk ke jajaran manajemen. Alih-alih membawa kejayaan, kehadiran Ratcliffe justru dianggap membawa dampak negatif bagi stabilitas klub. Pemicu utamanya adalah catatan buruk Setan Merah di kompetisi Liga Inggris, di mana mereka mencatatkan awal musim terburuk dalam empat dekade terakhir.

Perang Dingin di Manchester United
Gambar Istimewa :

Ketidakpuasan ini bukan tanpa alasan. Sejak kesepakatan senilai Rp24,4 triliun pada tahun 2024, Ratcliffe melalui grup INEOS memang memegang kendali penuh atas operasional sepak bola. Ia bahkan telah menjanjikan investasi infrastruktur sebesar Rp4,98 triliun untuk merenovasi stadion Old Trafford, sehingga total dana yang dikucurkan mencapai angka fantastis Rp29,38 triliun. Namun, hasil di lapangan justru berbanding terbalik dengan besarnya modal yang masuk.

COLLABMEDIANET

"Ini adalah sebuah tragedi. Situasi ini sama sekali tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan atau janjikan sebelumnya. Mereka tidak pernah mengelola klub dengan cara seperti ini," ungkap seorang sumber internal yang memiliki kedekatan dengan keluarga Glazer kepada media.

Kondisi di dalam ruang ganti pun kian memanas. Laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa keluarga Glazer menilai Ratcliffe gagal merancang strategi yang efektif. Penurunan kualitas tim di hampir seluruh lini dianggap sebagai antitesis dari janji-janji perbaikan yang selama ini digaungkan. Manchester United saat ini tengah terpuruk setelah gagal meraih kemenangan dalam delapan pertandingan beruntun di berbagai kompetisi. Posisi mereka di klasemen pun kian mengkhawatirkan, hanya terpaut dua poin dari zona dasar.

Keterpurukan ini tidak hanya merusak reputasi klub, tetapi juga mengancam nilai valuasi ekonomi Manchester United. Angka Rp91,5 triliun yang sempat dipasang Glazer sebagai nilai jual klub empat tahun lalu kini dianggap terlalu muluk mengingat performa tim yang sedang di titik nadir.

Menariknya, keluarga Glazer memiliki "senjata rahasia" dalam kontrak kesepakatan mereka. Berdasarkan klausul yang ada, Glazer memiliki hak untuk memaksa Ratcliffe menjual kembali sahamnya—yang kini telah naik menjadi 28 persen—jika muncul pihak ketiga yang ingin membeli klub secara keseluruhan. Ratcliffe tidak memiliki kekuatan hukum untuk menghalangi langkah ini, kecuali jika ia mampu menyamai tawaran pembeli baru tersebut untuk mengambil alih seluruh kepemilikan secara mandiri.

Situasi ini semakin pelik karena mulai Februari mendatang, Glazer juga memiliki keleluasaan untuk menjual saham klub di bawah harga perolehan Ratcliffe, yakni Rp503 ribu per lembar saham. Di tengah konflik ini, INEOS sendiri tampak mulai menarik diri dari beberapa investasi sepak bola lainnya, seperti rencana penjualan Lausanne-Sport di Swiss dan pengurangan harga jual klub Prancis, Nice.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar