Lintaswarta.co.id – Ketegangan di perbatasan Thailand dan Kamboja kembali memuncak, memicu kekhawatiran serius di kawasan Asia Tenggara. Di tengah eskalasi konflik bersenjata yang telah menelan korban jiwa, Republik Rakyat China secara resmi mengulurkan tangan diplomatiknya, mengirimkan utusan khusus untuk meredam bara perseteruan dan mendorong kembali meja perundingan.
Deng Xijun, Utusan Khusus Beijing untuk Urusan Asia, dilaporkan telah menyambangi Phnom Penh pekan ini. Kementerian Luar Negeri Kamboja mengonfirmasi bahwa kunjungan tersebut menegaskan kembali komitmen kuat China untuk mengambil peran aktif dalam mencari resolusi damai atas konflik yang berkepanjangan ini. "Deng Xijun menegaskan kembali bahwa China akan terus memainkan peran konstruktif dalam memfasilitasi dialog antara Kamboja dan Thailand dengan tujuan mempromosikan penyelesaian sengketa secara damai," demikian pernyataan resmi kementerian, seperti dikutip dari berbagai sumber.
Langkah diplomatik Beijing ini hadir di tengah meningkatnya tekanan regional dan internasional menyusul bentrokan terbaru yang dilaporkan telah menewaskan puluhan orang dan memaksa ratusan ribu warga dari kedua belah pihak mengungsi. Situasi ini diperparah dengan runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati.

Related Post
Tak hanya China, upaya meredakan ketegangan juga gencar dilakukan oleh Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Para menteri luar negeri negara anggota ASEAN menggelar pertemuan darurat di Kuala Lumpur pada Senin lalu, menyerukan penghentian pertempuran. Malaysia, sebagai ketua ASEAN, menyatakan harapan besar bahwa forum tersebut dapat membuka jalan menuju gencatan senjata yang lebih langgeng. Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, saat membuka pertemuan, menekankan urgensi masalah ini, "Kita harus memberikan perhatian paling mendesak pada masalah ini dan mempertimbangkan dampak luas dari eskalasi yang terus berlanjut bagi rakyat yang kita layani." Senada, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga menegaskan bahwa peran ASEAN bukan sekadar penyampai fakta, melainkan penekan agar kedua pihak segera mengamankan perdamaian.
Namun, di lapangan, kondisi masih sangat rentan. Phnom Penh menuduh pasukan Thailand menembakkan artileri ke wilayah Kamboja pada Senin pagi, yang mengakibatkan seorang warga sipil terluka. Tuduhan ini segera dibantah oleh Bangkok, yang bersikeras bahwa tindakan mereka murni untuk membela diri.
Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Thailand, Chatchai Bangchuad, mengakui adanya desakan dari komunitas internasional, termasuk China dan ASEAN. Namun, ia menegaskan bahwa "proses penyelesaian sengketa ini harus bersifat bilateral antara Thailand dan Kamboja," menunjukkan preferensi Bangkok untuk penanganan langsung.
Dari Washington, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan optimisme yang hati-hati bahwa kedua negara dapat kembali mematuhi gencatan senjata dalam waktu dekat. Amerika Serikat sendiri, bersama China dan Malaysia, sebelumnya pernah menengahi gencatan senjata yang kini kembali runtuh, menyoroti kompleksitas dan kerapuhan upaya perdamaian.
Konflik berkepanjangan antara Thailand dan Kamboja ini berakar dari sengketa perbatasan sepanjang sekitar 800 kilometer yang belum tuntas sejak era kolonial. Klaim atas sejumlah situs candi kuno di kawasan perbatasan menjadi salah satu pemicu utama yang terus memanaskan hubungan kedua negara.









Tinggalkan komentar