Prancis Terancam Krisis Utang Hebat

Harimurti

Prancis Terancam Krisis Utang Hebat

lintaswarta.co.id – Kondisi ekonomi di benua biru kini tengah berada di ambang ketidakpastian yang mengkhawatirkan. Raksasa perbankan multinasional, UBS, secara resmi mengeluarkan peringatan keras terhadap stabilitas ekonomi Prancis. CEO UBS, Sergio Ermotti, menegaskan bahwa pemerintah Prancis harus segera mengambil langkah-langkah drastis guna mengatasi lonjakan utang negara yang kian tak terkendali. Menurutnya, kebijakan reformasi yang bersifat kecil dan bertahap tidak akan mampu menyelamatkan negara tersebut dari jurang krisis fiskal yang mengancam.

Dalam sebuah diskusi yang dilansir dari laporan internasional, Ermotti memberikan perbandingan yang cukup mencemaskan. Ia menyamakan gejolak pasar obligasi Eropa saat ini dengan krisis utang zona euro yang pernah melanda pada tahun 2011 silam. Namun, ia menekankan bahwa situasi kali ini jauh lebih kompleks. Mengingat skala ekonomi Prancis yang sangat besar, dampak dari kegagalan pengelolaan utang ini berpotensi menciptakan efek domino yang lebih destruktif bagi ekonomi global.

Prancis Terancam Krisis Utang Hebat
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Kita telah melihat pola serupa dalam satu dekade terakhir di negara-negara seperti Spanyol, Italia, Yunani, dan Portugal. Menariknya, negara-negara yang pernah mengalami krisis hebat tersebut kini justru menjadi negara dengan kinerja ekonomi terbaik di Eropa," ujar Ermotti. Ia menambahkan bahwa Prancis kini berada di posisi yang sangat rentan dan membutuhkan langkah penghematan yang sangat tegas untuk memulihkan kredibilitas pertumbuhan ekonominya.

COLLABMEDIANET

Kekhawatiran pasar ini tercermin jelas dalam pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Prancis atau Oates (OAT). Dalam beberapa pekan terakhir, imbal hasil tersebut melonjak tajam akibat aksi jual masif oleh para investor. Hal ini dipicu oleh kecemasan mendalam terhadap memburuknya posisi fiskal negara tersebut. Bahkan, biaya pinjaman Prancis saat ini dilaporkan telah melampaui tingkat bunga di negara-negara yang sebelumnya dianggap sebagai pusat krisis, seperti Yunani dan Italia.

Menanggapi ancaman kiamat ekonomi ini, dinamika politik di Prancis juga mulai memanas. Kandidat presiden dari sayap kanan, Marine Le Pen, menyatakan komitmennya untuk melakukan pemangkasan anggaran belanja secara besar-besaran. Ia secara terbuka memperingatkan bahwa jika tidak ada tindakan tegas, Prancis berisiko tinggi mengalami gagal bayar (default) atas utang-utangnya.

Analisis dari Mitch Reznick, Kepala Kredit Lintas Batas di Federated Hermes, memperkuat narasi kepanikan ini. Ia menyebutkan bahwa Prancis kini telah menjadi pusat perhatian utama dalam krisis obligasi di Eropa. Investor mulai memperlakukan utang Prancis bukan lagi sebagai aset negara inti Eropa yang aman, melainkan lebih menyerupai risiko utang di wilayah pinggiran yang tidak stabil.

Saat ini, investor cenderung menarik modal mereka dari obligasi Prancis dan beralih ke obligasi Jerman (Bund) yang dianggap jauh lebih aman. Fenomena ini menyebabkan selisih (spread) antara obligasi Prancis dan Jerman semakin melebar secara signifikan. Meskipun Bank Sentral Eropa (ECB) saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan melakukan intervensi, para ahli memperingatkan bahwa kebijakan mereka mungkin akan berubah jika ketidakpastian politik dan defisit anggaran Prancis terus memburuk tanpa kendali.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar