Lintaswarta.co.id, Kyiv – Langit Ukraina kembali digempur serangan udara besar-besaran dari Rusia. Lebih dari seratus drone dan satu rudal balistik diluncurkan Moskow dalam semalam, sebuah eskalasi yang mengejutkan mengingat klaim Presiden AS Donald Trump sebelumnya bahwa Rusia telah menyetujui jeda serangan selama sepekan terhadap Kyiv dan kota-kota lainnya.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa serangan masif ini terjadi pada malam hari, dari Kamis hingga Jumat waktu setempat, tanggal 29-30 Januari 2026. "Mulai pukul 18.00 tanggal 29 Januari, musuh melancarkan satu rudal balistik Iskander-M dari wilayah Voronezh, serta 111 drone serang," demikian pernyataan resmi Angkatan Udara Ukraina, Jumat (30/1/2026), seperti dikutip AFP. Target serangan tersebar di berbagai wilayah Ukraina.
Serangan ini datang hanya sehari setelah Trump mengumumkan bahwa ia telah mendapatkan persetujuan dari Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan serangan udara selama seminggu. Namun, detail kesepakatan tersebut tidak dijelaskan secara rinci, dan hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Kremlin.

Related Post
Menanggapi klaim tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa jeda yang dimaksud hanya berlaku untuk serangan terhadap sektor energi Ukraina, bukan operasi militer secara keseluruhan. Zelenskyy juga menyuarakan harapannya agar Washington dapat memastikan Rusia mematuhi komitmen yang telah disepakati tersebut. "Saya mengandalkan Amerika Serikat untuk memastikan Rusia benar-benar mematuhi apa yang telah disepakati," ujarnya.
Dalam beberapa hari terakhir, infrastruktur listrik Ukraina memang menjadi sasaran utama serangan Rusia, menyebabkan jutaan warga menghadapi pemadaman listrik dan terhentinya pasokan pemanas di tengah suhu musim dingin yang membekukan. Insiden terbaru juga dilaporkan di wilayah Zaporizhzhia, Ukraina selatan, di mana sebuah bangunan tempat tinggal terkena serangan pada Kamis malam, melukai satu warga sipil, menurut Gubernur setempat.
Trump sendiri mengaku telah secara pribadi meminta Putin untuk menghentikan serangan udara, dengan alasan kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut. "Saya secara pribadi meminta agar serangan udara dihentikan. Jeda ini akan berlangsung selama satu minggu," kata Trump pada Kamis.








Tinggalkan komentar