Qatar Lumpuh, Emiten Migas & Batu Bara RI Pesta Cuan!

Harimurti

Qatar Lumpuh, Emiten Migas & Batu Bara RI Pesta Cuan!

Lintaswarta.co.id – Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, terutama pasca-serangan terhadap fasilitas produksi gas alam cair (LNG) terbesar milik QatarEnergy. Insiden ini sontak menciptakan gelombang kekhawatiran di pasar energi global, namun ironisnya, di tengah ancaman krisis energi dunia, sejumlah emiten migas dan batu bara di Indonesia justru berpotensi besar meraup keuntungan signifikan.

Penghentian operasional kompleks Ras Laffan, fasilitas vital yang dikelola QatarEnergy dan bertanggung jawab atas sekitar 20% pasokan LNG global, disebut sebagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Insiden ini, yang dipicu oleh serangan dari Iran, sontak memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi dan memicu turbulensi di bursa komoditas internasional.

Qatar Lumpuh, Emiten Migas & Batu Bara RI Pesta Cuan!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dampak langsung dari peristiwa ini segera terasa di pasar energi Eropa. Harga gas berjangka acuan melonjak drastis, mencapai kenaikan terbesar sejak krisis energi 2022 akibat invasi Rusia ke Ukraina. Sempat melonjak hingga sekitar 54% dalam sehari, harga kontrak berjangka gas alam Eropa pada Rabu malam (4/3/2026) sempat terkoreksi lebih dari 11% menjadi €47,5 per megawatt-hour (MWh), sebelum ditutup pada level €48,77 per MWh, setelah dua hari perdagangan beruntun mencatat lonjakan hampir 60%.

COLLABMEDIANET

Tak hanya gas alam, harga batu bara juga turut merespons positif gejolak ini. Pada Selasa (3/3/2026), komoditas "emas hitam" ini sempat menyentuh US$ 138 per ton, menandai level tertinggi sejak November 2024. Kenaikan ini terjadi seiring posisi batu bara sebagai energi substitusi, yang secara otomatis mendongkrak permintaan di tengah ketidakpastian pasokan energi global dan eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Dengan kembali moncernya harga migas dan batu bara di pasar internasional, Lintaswarta.co.id memproyeksikan sejumlah emiten di Tanah Air memiliki peluang besar untuk mendulang keuntungan. Di sektor migas, nama-nama seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) menjadi sorotan.

Selain itu, PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) juga diyakini akan diuntungkan sebagai pemain kunci LNG domestik. PGAS memiliki anak usaha, PGN LNG Indonesia, yang fokus pada trading LNG domestik dan internasional, pengelolaan FSRU Lampung, revitalisasi Tangki LNG Arun, serta pengembangan infrastruktur skala kecil guna memenuhi kebutuhan industri dan smelter.

Sementara itu, untuk emiten batu bara, fokus tertuju pada perusahaan-perusahaan yang berada di "zona aman" dan terhindar dari pemangkasan signifikan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi batu bara 2026, yang keputusannya akan segera diumumkan akhir Maret ini. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memastikan bahwa tidak semua perusahaan akan terkena pemangkasan kuota RKAB 2026.

Terdapat pengecualian khusus bagi perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) Generasi 1 serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP). Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menjelaskan bahwa kelompok ini dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara, baik melalui royalti maupun pembagian keuntungan, sehingga volume produksinya tetap dipertahankan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar