Lintaswarta.co.id – Pergerakan nilai tukar rupiah yang terus melemah mendekati angka Rp17.000 per dolar AS menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri alas kaki. Fluktuasi nilai tukar ini berpotensi memengaruhi struktur biaya produksi dan daya saing produk, terutama karena rantai pasok global yang didominasi transaksi dolar.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Harijanto, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah memiliki dua sisi mata uang. Bagi eksportir, ini bisa menjadi keuntungan karena harga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Namun, di sisi lain, industri yang berorientasi pada pasar domestik akan merasakan dampaknya karena ketergantungan pada impor bahan baku.
"Dolar naik, ekspor sepatu bisa lebih kompetitif harganya. Tapi, yang jual di lokal pasti kena imbasnya," ujar Harijanto usai Munas XI Aprisindo di Jakarta.

Related Post
Lintaswarta.co.id mencatat, kondisi ini menciptakan dilema bagi industri alas kaki. Ekspor diuntungkan, tetapi pasar domestik harus menanggung konsekuensinya. Keseimbangan antara pasar lokal dan global sangat penting untuk keberlanjutan industri, terutama saat konsumsi domestik menjadi penopang utama di tengah perlambatan permintaan global.
Ketua Umum Aprisindo, Anton J. Supit, menekankan pentingnya stabilitas nilai tukar. Fluktuasi yang terlalu tajam menyulitkan perencanaan usaha, mulai dari penentuan harga hingga perhitungan biaya produksi jangka panjang.
"Yang paling bagus itu jangan terlalu fluktuatif. Merugikan ekspor, merugikan impor, dan harga lokal," kata Anton.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, kinerja ekspor industri alas kaki Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Lintaswarta.co.id melaporkan, Indonesia kini menjadi produsen ekspor alas kaki terbesar ketiga di dunia, dengan total nilai ekspor mencapai USD 32 miliar selama periode 2020-2024.
Pemulihan pasca-pandemi menjadi momentum penting bagi sektor ini. Pada tahun 2024, ekspor melonjak signifikan sebesar 13,13% menjadi US$7,28 miliar. Hingga November 2025, kinerja ekspor tetap stabil di US$7,25 miliar, tumbuh 9,08% secara tahunan.
Amerika Serikat masih menjadi pasar utama bagi sepatu buatan Indonesia, dengan kontribusi lebih dari 30%. Meskipun menghadapi tarif resiprokal 19% sejak Agustus 2025, ekspor ke AS hingga November 2025 masih naik 7,73% menjadi US$2,54 miliar.
Sementara itu, pasar Eropa dinilai stabil dan berpotensi menjadi motor pertumbuhan berikutnya, seiring implementasi penuh perjanjian dagang dengan Uni Eropa.
"Eropa menunjukkan stabilitas dengan nilai US$1,59 miliar hingga November 2025. IEU-CEPA dengan target tarif 0% akan menjadi katalis pertumbuhan ke depan," ujar Anton.
Lintaswarta.co.id juga mencatat, berbeda dengan China yang justru mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Hingga November 2025, nilai ekspor ke China tercatat US$500,87 juta. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi penetrasi pasar yang lebih spesifik untuk pasar China.








Tinggalkan komentar