Rupiah Terperosok Dolar AS Tembus 17950

Harimurti

Rupiah Terperosok Dolar AS Tembus 17950

lintaswarta.co.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan performa yang kurang memuaskan di pasar global. Setelah sempat menunjukkan penguatan pada akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah justru terperosok cukup dalam saat memulai perdagangan pada Senin (5/10/2026). Rupiah mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang kini telah menyentuh level Rp17.950 per dolar AS.

Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah dibuka dengan penurunan sebesar 0,46% atau setara dengan 82 poin jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan pada Jumat (2/10/2026) yang berada di level Rp17.868/US$. Tekanan ini membuat posisi rupiah semakin rentan di tengah fluktuasi pasar keuangan global yang tidak menentu.

Rupiah Terperosok Dolar AS Tembus 17950
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, kekuatan dolar AS atau greenback justru semakin solid. Indeks dolar AS (DXY), yang menjadi tolok ukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat berada di posisi 102,030 pada pukul 09.00 WIB. Hal ini menunjukkan adanya penguatan sebesar 0,10%, yang secara langsung memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

COLLABMEDIANET

Pelemahan rupiah ini dipicu oleh kombinasi sentimen domestik dan faktor eksternal yang kompleks. Dari sisi domestik, pelaku pasar tengah menanti rilis data penting pekan ini, yakni laporan cadangan devisa bulan September serta indeks keyakinan konsumen. Kedua data tersebut sangat krusial bagi para investor untuk mengukur sejauh mana ketahanan eksternal Indonesia serta bagaimana kondisi permintaan domestik di tengah ketidakpastian ekonomi.

Sementara itu, dari kancah internasional, pasar masih terus mencerna dampak dari laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis Jumat malam lalu. Data tersebut menunjukkan adanya perlambatan tajam pada pertumbuhan lapangan kerja AS di bulan September 2026. Angka non-farm payrolls hanya mencatatkan penambahan 29.000 pekerjaan, sebuah angka yang sangat jauh dari ekspektasi pasar yang sebelumnya memproyeksikan penambahan sebanyak 90.000 pekerjaan.

Selain itu, tingkat pengangguran di Amerika Serikat juga mengalami kenaikan menjadi 4,2%, naik dari sebelumnya yang berada di angka 4,1%. Lemahnya data tenaga kerja ini memicu spekulasi di pasar bahwa The Federal Reserve akan bersikap lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga mereka ke depan. Namun, anomali terjadi di mana dolar AS justru menguat di tengah pelemahan data ekonomi tersebut, yang semakin menekan mata uang di pasar berkembang.

Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik juga menjadi perhatian serius. Pelaku pasar terus memantau eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, terutama situasi di kawasan Selat Hormuz. Ketidakpastian ini berdampak langsung pada pergerakan harga minyak dunia, yang berpotensi memicu inflasi global dan memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral dunia.

Sepanjang pekan ini, perhatian investor akan tertuju pada rilis data aktivitas sektor jasa di Amerika Serikat serta pengumuman notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Data-data tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS di masa mendatang.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar