lintaswarta.co.id – Sebuah fenomena luar biasa baru saja mengguncang dunia astronomi setelah para ilmuwan berhasil menangkap sinyal radio misterius yang telah menempuh perjalanan selama lebih dari 10 miliar tahun. Sinyal ini bukan sekadar gelombang biasa, melainkan sebuah ledakan energi masif yang berasal dari era ketika alam semesta masih sangat muda, jauh sebelum keberadaan Tata Surya kita dimulai.
Penemuan yang diberi kode FRB 20240304B ini mencatatkan sejarah baru sebagai ledakan gelombang radio cepat (Fast Radio Burst/FRB) terjauh yang pernah terdeteksi oleh manusia. Jarak tempuh sinyal ini bahkan melampaui dua kali lipat dari rekor jarak terjauh yang pernah ditemukan sebelumnya. Hal ini memberikan perspektif baru mengenai betapa luas dan dinamisnya ruang angkasa yang kita huni.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Manisha Caleb dan Themiya Nanayakkara dari Universitas Sydney menjelaskan bahwa sinyal ini berasal dari galaksi dengan pergeseran merah sebesar 2,148. Angka ini menunjukkan bahwa cahaya radio tersebut telah berkelana melintasi ruang hampa selama lebih dari 10 miliar tahun sebelum akhirnya menyentuh sensor di Bumi.

Related Post
"Jika kita mencoba membayangkan skalanya, cahaya ini meninggalkan sumbernya jauh sebelum Bumi maupun Matahari terbentuk. Saat ledakan itu meluncur ke arah kita, planet tempat kita berpijak ini belum ada, bahkan kehidupan manusia pun belum terbayangkan," ungkap tim peneliti dalam keterangannya. Sebagai perbandingan, Bumi sendiri diperkirakan baru berusia sekitar 4,5 miliar tahun.
Secara teknis, fenomena FRB ini memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Hanya dalam waktu sepersekian detik, ledakan ini mampu melepaskan energi yang setara dengan total energi yang dipancarkan oleh Matahari selama beberapa hari. Para ilmuwan mengibaratkan sinyal ini seperti sebuah senter kosmik raksasa yang menembus kegelapan ruang antar galaksi.
Keunikan dari sinyal ini terletak pada kemampuannya untuk mengungkap rahasia alam semesta. Saat gelombang radio ini merambat, ia melewati berbagai materi tak kasat mata seperti gas galaksi dan materi yang tersebar di ruang antar galaksi. Interaksi ini meninggalkan jejak pada bentuk gelombang yang diterima, yang memungkinkan para astronom untuk memetakan struktur materi yang selama ini tidak bisa dilihat oleh mata manusia maupun teleskop biasa.
Awalnya, para peneliti sempat kesulitan mengidentifikasi galaksi asal ledakan tersebut. Namun, berkat bantuan teknologi mutakhir dari Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), sumber misterius itu akhirnya terungkap. Hasilnya cukup mengejutkan; galaksi induk dari sinyal tersebut ternyata 100 kali lebih kecil dibandingkan galaksi-galaksi yang biasanya menjadi asal ledakan serupa. Meski berukuran kecil, galaksi tersebut sangat aktif dalam melahirkan bintang-bintang baru.
Kondisi ini memperkuat teori bahwa ledakan FRB berasal dari bintang magnet (magnetar), yaitu bintang dengan medan magnet yang sangat kuat. Temuan penting ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi, Science. Ke depannya, tim peneliti berencana memanfaatkan JWST selama tiga tahun ke depan untuk memburu lebih banyak sinyal serupa. Harapannya, semakin banyak data yang terkumpul, semakin lengkap pula peta materi tersembunyi di alam semesta yang dapat disusun oleh manusia.








Tinggalkan komentar