Terkuak! Operasi Senyap CIA-Mossad Guncang Timur Tengah

Harimurti

Terkuak! Operasi Senyap CIA-Mossad Guncang Timur Tengah

Lintaswarta.co.id – Gelombang operasi senyap yang menargetkan figur-figur kunci di Iran dan sekutunya dalam beberapa tahun terakhir memicu sorotan tajam. Kendati kerap dikaitkan dengan kecanggihan intelijen Israel, Mossad, sejumlah analis kini menunjuk pada peran krusial Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat sebagai faktor penentu keberhasilan di balik layar. Kolaborasi rahasia antara kedua badan intelijen ini disinyalir menjadi kunci di balik sejumlah "pemenggalan kepemimpinan" yang mengguncang kawasan.

Insiden yang merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Februari 2026, yang awalnya dipuji sebagai kemenangan Mossad, kini diyakini sangat bergantung pada sokongan intelijen dan teknologi dari CIA. Analis dari International Institute for Strategic Studies (IISS) mengungkapkan bahwa operasi tersebut memanfaatkan bank target serta pengawasan elektronik real-time yang disuplai oleh intelijen AS. Dilaporkan, CIA memonitor pergerakan Khamenei selama berbulan-bulan, memastikan lokasinya di kompleks kepemimpinan Teheran pada hari penyerangan. Informasi vital ini bahkan mengubah keputusan waktu serangan dari malam ke siang hari, menunjukkan tingkat koordinasi yang mendalam. Tak hanya itu, teknologi militer AS, seperti drone pengintai dan sistem persenjataan presisi, turut berperan dalam penargetan strategis.

Terkuak! Operasi Senyap CIA-Mossad Guncang Timur Tengah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pola kerja sama serupa juga teridentifikasi dalam operasi yang menewaskan pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, pada September 2024. Kala itu, Angkatan Udara Israel dilaporkan mengerahkan puluhan bom penghancur bunker buatan AS untuk meluluhlantakkan pusat komando bawah tanah. Mamoun Abu Amer, seorang analis politik Timur Tengah yang berbasis di Istanbul, menegaskan bahwa operasi semacam ini bukan sekadar upaya tunggal intelijen Israel, melainkan hasil "kolaborasi erat dengan berbagai badan internasional, termasuk CIA dan badan intelijen luar negeri Inggris, MI6."

COLLABMEDIANET

Abu Amer juga menyoroti bagaimana Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, diduga mengeksploitasi keberhasilan operasi ini untuk keuntungan politik domestik. "Netanyahu memanfaatkannya untuk menampilkan kemenangan politik pribadi kepada publiknya, seolah berhasil menyeret presiden AS ke dalam konfrontasi militer langsung dengan Iran," jelasnya. Di sisi lain, keberhasilan operasi Israel juga tak lepas dari eksploitasi celah keamanan internal di negara-negara target. Kasus pembunuhan pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, pada Juli 2024 di sebuah wisma tamu Garda Revolusi Iran di Teheran, misalnya, mengindikasikan adanya infiltrasi agen rahasia. Perangkat peledak diduga telah diselundupkan ke ruangan tersebut berbulan-bulan sebelum kedatangan Haniyeh, menguatkan dugaan keterlibatan kolaborator lokal.

Menurut Abu Amer, Mossad jarang hanya mengandalkan agennya sendiri. Mereka sering memanfaatkan proksi asing atau individu berkewarganegaraan ganda untuk menyusup ke negara target tanpa menimbulkan kecurigaan. Lebih jauh, intelijen Israel juga disebut menggunakan metode canggih, seperti meretas kamera lalu lintas di Teheran untuk memetakan pola pergerakan pengawal Khamenei. Bahkan, menara telepon seluler di sekitar lokasi dilaporkan sempat diganggu sesaat sebelum serangan, bertujuan menghalangi pengawal menerima peringatan dini.

Namun, di balik keberhasilan taktis operasi "pemenggalan kepemimpinan" ini, sejumlah analis memperingatkan bahwa strategi tersebut belum tentu menjamin stabilitas jangka panjang di kawasan. Abu Amer mengemukakan bahwa serangan terhadap Iran, yang diklaim akan meningkatkan keamanan Israel, justru berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah. "Netanyahu mengklaim serangan terhadap Iran akan mengamankan Israel untuk generasi mendatang. Namun, beberapa bulan kemudian kawasan kembali dilanda perang," kritiknya. Ia menilai, pendekatan yang hanya bertumpu pada pembunuhan target bernilai tinggi hanya memberikan keuntungan sesaat. "Mengandalkan pembunuhan intelijen tidak mengubah realitas strategis yang lebih luas; itu hanya memberi jeda sementara sambil menyeret Israel ke dalam konflik yang tidak dapat diatasi sendiri," pungkas Abu Amer.

Perdebatan mengenai efektivitas jangka panjang dari operasi-operasi senyap ini terus berlanjut, mempertanyakan apakah taktik yang berisiko tinggi ini benar-benar membawa keamanan atau justru memperdalam jurang konflik di salah satu kawasan paling bergejolak di dunia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar