Teror Asap Kalimantan Lumpuhkan Nelayan Natuna

Harimurti

Teror Asap Kalimantan Lumpuhkan Nelayan Natuna

Lintaswarta.co.id, Batam – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan kini merambah hingga ke perairan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Kondisi ini secara signifikan menghambat aktivitas melaut para nelayan setempat, menimbulkan kekhawatiran serius akan mata pencarian mereka yang bergantung pada hasil laut.

Para nelayan mengeluhkan kondisi ini, di mana jarak pandang di laut sangat terbatas. Bahkan, hanya sekitar tiga mil dari garis pantai Pulau Natuna, seluruh wilayah sekitar sudah diselimuti kabut tebal, membuat navigasi kapal menjadi sangat sulit dan berbahaya. "Kami ikut terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan," ujar Zubian Toni, seorang nelayan Natuna, kepada lintaswarta.co.id, baru-baru ini.

Teror Asap Kalimantan Lumpuhkan Nelayan Natuna
Sumber Istimewa : akcdn.detik.net.id

Toni menjelaskan, satu-satunya penunjuk arah yang bisa diandalkan saat ini adalah Global Positioning System (GPS) bagi mereka yang memilikinya. Ia menambahkan, kabut asap yang menyelimuti perairan Natuna ini telah berlangsung selama kurang lebih sepekan terakhir dan belum menunjukkan tanda-tanda akan menghilang sepenuhnya. "Sudah seminggu ini, Bang, tidak hilang kabutnya. Musim teduh, asap tidak terbawa angin," keluhnya, menggambarkan kondisi cuaca yang memperparah penumpukan asap.

COLLABMEDIANET

Senada dengan Toni, Hariadi, nelayan lain dari Pulau Subi, Natuna, turut merasakan dampak parah kabut asap ini. Ia menyoroti kesulitan yang dialami nelayan tanpa peralatan canggih seperti GPS atau aplikasi navigasi di ponsel. Panduan alami yang biasa mereka gunakan, seperti penampakan pulau, ‘pal’ (penanda laut), bintang di malam hari, atau bahkan lampu suar, kini tak lagi terlihat. "Tentunya sangat menyulitkan," kata Hariadi. Ia menambahkan, jarak pandang suar yang normalnya bisa mencapai 8 mil laut, kini hanya mampu menembus sekitar 0,5 mil, sebuah penurunan drastis.

Kesulitan tidak hanya pada navigasi, tetapi juga dalam menemukan lokasi gerombolan ikan. Hariadi menjelaskan, para nelayan yang menargetkan ikan tuna atau tongkol biasanya mengandalkan tanda-tanda seperti gemercik air atau keberadaan burung camar yang sedang berburu mangsa. Namun, kabut asap yang pekat menghalangi pandangan mereka, membuat tanda-tanda vital tersebut menjadi tidak terlihat. "Kalau ketemu gerombolan ikan tongkol, tapi terhalang dengan kabut asap, ini yang sulit akibat kabut asap," tuturnya.

Meskipun demikian, Hariadi menyebutkan bahwa pada hari ini, kabut asap sudah mulai menunjukkan tanda-tanda berkurang, terbawa angin kencang. Ia mengakui bahwa kondisi dua hingga tiga hari sebelumnya jauh lebih parah, dengan ketebalan asap yang mengkhawatirkan. Diharapkan, kondisi cuaca yang membaik dapat segera mengembalikan normalnya aktivitas melaut bagi para nelayan Natuna.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar