Lintaswarta.co.id, Jakarta – Perekonomian Provinsi Papua Tengah terperosok dalam jurang kontraksi yang mengejutkan pada tahun 2025, mencatat angka minus 6,44%. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa biang keladi utama di balik anjloknya performa ekonomi ini adalah penurunan signifikan pada sektor pertambangan dan penggalian, yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian di wilayah tersebut. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan fakta mengejutkan ini dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis (5/2/2026).
Meskipun secara nasional ekonomi Indonesia diprediksi menunjukkan geliat pertumbuhan di seluruh wilayah pada tahun 2025, kawasan Maluku dan Papua secara keseluruhan hanya mencatat pertumbuhan paling tipis, yakni 1,44%. Di tengah gambaran pertumbuhan yang melambat ini, Papua Tengah menjadi anomali paling mencolok dengan angka kontraksi terendah di antara semua provinsi.
Amalia menjelaskan secara rinci bahwa penurunan drastis pada kategori pertambangan dan penggalian merupakan faktor dominan yang menjadi beban berat menyeret kinerja ekonomi Papua Tengah. "Pertumbuhan wilayah ekonomi Papua Tengah ini terendah pada tahun 2025 salah satunya disebabkan oleh penurunan pada kategori pertambangan dan penggalian yang memang cukup besar," tegas Amalia, menyoroti ketergantungan wilayah tersebut pada sektor ekstraktif.

Related Post
Kondisi ini kontras dengan beberapa wilayah lain di Maluku dan Papua yang, meskipun tumbuh lambat, masih mencatatkan angka positif. Papua Barat hanya mampu tumbuh 0,9%, disusul Papua 0,57%, Maluku 0,48%, Papua Barat Daya 0,28%, Papua Selatan 0,18%, dan Papua Pegunungan 0,14%. Menariknya, Maluku Utara justru tampil perkasa dengan pertumbuhan mencapai 5,33%, menjadi pengecualian di tengah tren perlambatan ekonomi regional Maluku dan Papua. Penurunan sektor pertambangan di Papua Tengah ini pun menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan diversifikasi ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada satu sektor saja.








Tinggalkan komentar