lintaswarta.co.id – Fenomena El Niño dengan intensitas yang sangat kuat diprediksi akan terus membayangi wilayah Indonesia hingga penghujung September 2026. Kondisi iklim ekstrem ini memicu musim kemarau yang lebih panjang dan meningkatkan risiko kekeringan hebat di berbagai daerah, termasuk di wilayah-wilayah yang menjadi tulang punggung produksi pangan nasional.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), indeks ENSO untuk periode Juli hingga September 2026 berada pada level +2,63. Angka ini mengindikasikan bahwa El Niño sedang berada dalam fase yang sangat kuat. Selain itu, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 juga menunjukkan tren kenaikan, mencapai +2,97 pada pertengahan September, melampaui angka pada bulan sebelumnya.
Dampak nyata dari fenomena ini mulai dirasakan pada penurunan drastis curah hujan. Tercatat, sekitar 87,53% wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, dengan mayoritas wilayah mencatatkan intensitas hujan di bawah normal. Kondisi kering ekstrem ini telah berlangsung selama berbulan-bulan, terutama di bagian tengah hingga timur Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Related Post
Salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah adalah Bantul, DI Yogyakarta. Daerah ini mencatatkan rekor hari tanpa hujan (HTH) yang sangat panjang, yakni mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan berturut-turut. Fenomena serupa juga melanda sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan selatan, serta Sulawesi bagian selatan dan tenggara.
Musim Hujan Diprediksi Mundur
Kekhawatiran semakin meningkat karena musim hujan tahun 2026/2027 diprediksi akan datang terlambat. BMKG memperkirakan sekitar 61,08% luas daratan Indonesia, atau setara dengan 529 Zona Musim (ZOM), akan mengalami kemunduran awal musim hujan. Sebagian besar wilayah diperkirakan baru akan merasakan hujan pada bulan November atau Desember.
Kombinasi antara El Niño yang kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif menjadi penyebab utama minimnya suplai kelembapan ke wilayah Indonesia. Hal ini mengakibatkan durasi musim hujan juga diperkirakan akan lebih pendek dari biasanya di lebih dari separuh luas daratan Indonesia.
Sentra Padi dalam Status ‘Awas’
Situasi ini menjadi alarm bagi ketahanan pangan nasional. Peta peringatan dini BMKG menunjukkan status ‘Awas’ tersebar di berbagai wilayah produktif, mulai dari DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga NTB dan NTT. Secara total, terdapat 197 wilayah yang kini berada dalam status ‘Awas’ kekeringan meteorologis.
Hal yang paling krusial adalah banyaknya wilayah berstatus ‘Awas’ yang merupakan sentra produksi padi terbesar di Indonesia. Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, yang selama ini mendominasi produksi beras nasional, kini tengah menghadapi tekanan kekeringan yang serius. Selain itu, wilayah seperti NTB dan Gorontalo yang memiliki peran penting dalam produksi jagung dan padi juga tidak luput dari ancaman.
Kementerian Pertanian telah memberikan peringatan dini bahwa keterbatasan air dapat mengganggu pola tanam, menurunkan indeks pertanaman, hingga memicu risiko gagal panen secara massal. Selain padi, komoditas jagung dan hortikultura juga terancam. Bahkan, kondisi kering ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sektor perkebunan.
Pemerintah kini tengah memperkuat langkah mitigasi, mulai dari program pompanisasi, pemanfaatan sumber air alternatif, hingga penyesuaian jadwal tanam bagi para petani guna mengantisipasi dampak jangka panjang dari kemarau ekstrem ini.









Tinggalkan komentar