lintaswarta.co.id – Sebuah kabar mengejutkan datang dari kancah politik Timur Tengah. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan telah melakukan kunjungan rahasia ke Uni Emirat Arab (UEA) untuk bertemu langsung dengan Presiden Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan di Abu Dhabi. Kabar mengenai pertemuan tertutup ini pertama kali mencuat melalui laporan berbagai media di Israel pada Minggu waktu setempat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kunjungan ini dilakukan dengan sangat senyap tanpa adanya pengumuman resmi dari kantor Perdana Menteri Israel. Saluran televisi Israel, Channel 12, mengungkapkan bahwa Netanyahu menggunakan pesawat pribadi untuk terbang menuju ibu kota Emirat tersebut. Ia dilaporkan menghabiskan waktu hanya beberapa jam di sana sebelum kembali ke Israel.
Lembaga penyiaran publik Israel, KAN, memberikan rincian teknis mengenai pergerakan tersebut. Netanyahu dikabarkan menggunakan pesawat pribadi milik seorang pengusaha Israel yang identitasnya dirahasiakan. Pesawat eksklusif ini memang dikenal sering digunakan oleh para petinggi Israel untuk perjalanan internasional yang bersifat sensitif.

Related Post
Data menunjukkan bahwa pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Ben Gurion pada sore hari dan mendarat di Abu Dhabi sekitar pukul 15.10 waktu setempat. Namun, yang memicu tanda tanya besar adalah durasi kunjungannya yang sangat singkat. Hanya berselang empat jam, yakni pada pukul 19.10, pesawat tersebut kembali terbang menuju Israel dan baru mendarat setelah pukul 22.00 malam. KAN juga mencatat bahwa Netanyahu sebelumnya pernah menggunakan armada yang sama untuk perjalanan ke Abu Dhabi saat tensi konflik dengan Iran meningkat.
Kunjungan senyap ini muncul di tengah badai kontroversi yang tengah menghantam kepemimpinan Netanyahu. Sebelumnya, media internasional The New York Times melaporkan adanya dugaan bahwa Netanyahu telah menerima peringatan rahasia dari Presiden UEA sebelum serangan besar Hamas pada 7 Oktober 2023 terjadi. Namun, informasi krusial tersebut diduga kuat tidak diteruskan oleh Netanyahu kepada jajaran kepala keamanan Israel.
Menanggapi isu yang berkembang, pihak Uni Emirat Arab melalui sumber resmi yang dikutip oleh surat kabar The National menyatakan bahwa negara mereka menangani isu keamanan melalui badan-badan terkait, bukan melalui pertemuan langsung antar-pemimpin nasional. Hal ini seolah menjadi upaya untuk menepis rumor adanya negosiasi tingkat tinggi antara kedua pemimpin tersebut.
Saat ini, posisi Netanyahu berada dalam tekanan hebat. Selain menghadapi kritik domestik, ia juga menjadi target pengejaran hukum internasional. Pada tahun 2024, Pengadilan Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya terkait dugaan kejahatan perang di Gaza. Konflik di Gaza sendiri telah membawa dampak kemanusiaan yang sangat mengerikan, dengan puluhan ribu warga Palestina menjadi korban dalam serangan yang terus berlangsung.








Tinggalkan komentar