lintaswarta.co.id – Kondisi ekonomi Indonesia kini tengah berada dalam sorotan tajam para pakar. Berdasarkan hasil survei terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, mayoritas ahli ekonomi memprediksi adanya tren penurunan kualitas ekonomi nasional menjelang akhir tahun 2026.
Dalam laporan Survei LPEM Ahli Ekonomi Semester II-2026 yang dirilis baru-baru ini, sebanyak 33 dari 63 pakar ekonomi atau sekitar 52% menyatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini mengalami penurunan dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Jika dirinci lebih dalam, sebanyak 29 ahli menilai kondisi ekonomi memburuk, sementara 4 ahli lainnya menyatakan kondisi ekonomi sudah berada pada level yang jauh lebih buruk.
Fenomena ini menjadi sinyal waspada bagi pemerintah dan pelaku pasar. Meskipun data Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 berada di angka 5,29%, namun persepsi para ahli justru menunjukkan arah yang berlawanan. Para pakar melihat adanya tekanan yang nyata pada beberapa indikator fundamental ekonomi.

Related Post
Salah satu poin yang paling mencemaskan adalah tekanan inflasi. Sebanyak 78% ahli ekonomi menilai tekanan inflasi terhadap perekonomian Indonesia saat ini berada pada level tinggi. Dari jumlah tersebut, 70% pakar menyebut inflasi tinggi, dan 5% lainnya menyatakan inflasi sangat tinggi. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat angka inflasi tahunan pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%, angka yang sudah sangat mendekati batas atas target Bank Indonesia, yakni di kisaran 1,5% hingga 3,5%.
Selain masalah inflasi, sektor ketenagakerjaan juga menjadi sorotan utama. Sebanyak 73% ahli ekonomi menilai bahwa laju penciptaan lapangan kerja saat ini mengalami penurunan dibandingkan enam bulan yang lalu. Sebanyak 30 ahli menyatakan penciptaan lapangan kerja lebih rendah, dan 16 ahli lainnya menyebutkan penurunan tersebut terjadi secara signifikan atau jauh lebih rendah. Kondisi ini mengindikasikan adanya tantangan besar dalam penyerapan tenaga kerja di tengah dinamika ekonomi yang ada.
Tak hanya itu, iklim usaha atau lingkungan bisnis juga dinilai sedang tidak dalam kondisi prima. Sebanyak 56% ahli berpendapat bahwa lingkungan bisnis saat ini memburuk dibandingkan tiga bulan lalu. Dari total responden, 41% menilai kondisi bisnis memburuk, dan 14% lainnya menyatakan kondisi bisnis jauh lebih buruk.
Secara keseluruhan, survei ini menunjukkan bahwa meskipun angka pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan angka positif, namun kualitas pertumbuhan tersebut dirasakan mulai melambat dan memberikan tekanan pada daya beli masyarakat serta kemudahan berusaha. Para ahli menekankan pentingnya kebijakan pemerintah yang tepat sasaran untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong kembali momentum penciptaan lapangan kerja demi menjaga ketahanan ekonomi nasional di sisa tahun 2026.







Tinggalkan komentar