lintaswarta.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang kurang menggembirakan pada perdagangan sesi kedua, Selasa (27/10/2026). Berdasarkan pantauan pasar pada pukul 13.53 WIB, indeks mengalami koreksi cukup dalam dengan turun sebesar 54,13 poin atau setara dengan 1,01 persen, sehingga bertengger di level 5.318,96.
Perjalanan IHSG pada hari ini sebenarnya sempat memberikan harapan bagi para investor di pagi hari. Saat bel pembukaan berbunyi, indeks dibuka di level 5.357,97 dan sempat melesat naik hingga menyentuh puncak harian di angka 5.418,14. Namun, euforia penguatan tersebut tidak berlangsung lama. Memasuki pukul 10.00 WIB, tren positif tersebut berbalik arah menjadi tekanan jual yang masif.
Meski sempat ada upaya pemulihan atau rebound tipis menjelang pukul 10.30 WIB yang membawa indeks ke area 5.370-an, pasar kembali kehilangan momentum. Sepanjang sesi pertama, indeks cenderung bergerak stagnan di kisaran 5.340 hingga 5.350 sebelum akhirnya kembali merosot tajam menjelang siang hari. Adapun aktivitas perdagangan tercatat cukup aktif dengan volume transaksi mencapai 168,54 juta lot dan nilai transaksi menyentuh angka Rp6.233,14 miliar.

Related Post
Kondisi pasar modal domestik saat ini tengah dibayangi oleh dinamika geopolitik global yang sangat fluktuatif. Salah satu sorotan utama adalah ketegangan di kawasan Timur Tengah. Upaya diplomasi tengah dilakukan oleh Arab Saudi, Turki, dan Pakistan yang bertemu dengan pejabat Iran di Teheran untuk meredakan konflik. Meskipun ada usulan pembentukan jaringan non-agresi regional, ketidakpastian tetap tinggi mengingat ancaman serangan dari Amerika Serikat terhadap Iran masih membayangi.
Situasi geopolitik ini juga berdampak langsung pada komoditas energi. Harga minyak mentah dunia, baik Brent maupun WTI, mengalami koreksi pada perdagangan Senin (26/10/2026) di tengah harapan meredanya konflik. Minyak Brent turun 0,8 persen ke level US$115,81 per barel, sementara WTI merosot 1,46 persen ke level US$101,76 per barel. Meski demikian, harga minyak tetap berada di level yang tinggi karena risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz masih nyata.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah berupaya memperkuat fondasi pasar modal melalui serangkaian kebijakan baru. BEI berencana memperketat pengawasan terhadap transaksi mencurigakan, termasuk pembekuan rekening efek yang melanggar aturan. Salah satu langkah signifikan adalah rencana pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari penghitungan IHSG yang akan mulai berlaku pada 2 November 2026. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi, menjaga likuiditas, serta memulihkan kepercayaan investor terhadap stabilitas pasar modal tanah air.








Tinggalkan komentar