Geger! Kontraktor NATO ‘Layani’ Satelit Militer China?

Harimurti

Lintaswarta.co.id – Sebuah laporan investigasi mengejutkan dari Newsweek telah membongkar fakta bahwa Kongsberg Satellite Services (KSAT), penyedia layanan satelit terkemuka di Eropa yang berafiliasi dengan kontraktor pertahanan NATO, memiliki izin untuk menyediakan layanan bagi puluhan satelit milik perusahaan Tiongkok yang memiliki kaitan erat dengan militer Beijing. Temuan ini sontak memicu gelombang kekhawatiran di tengah eskalasi ketegangan global, khususnya antara Amerika Serikat, Iran, dan Rusia.

Dokumen yang berhasil diakses dari Otoritas Komunikasi Norwegia (NKOM) mengungkap bahwa KSAT mengantongi persetujuan untuk menjalin komunikasi dengan 42 satelit milik Chang Guang Satellite Technology Co. Ltd. (CGSTL). Perusahaan asal Tiongkok ini dikenal sebagai penyedia citra satelit komersial terbesar di negaranya, didirikan atas kolaborasi pemerintah provinsi Jilin dan institusi riset negara yang secara eksplisit melayani kebutuhan pertahanan nasional Tiongkok.

Geger! Kontraktor NATO 'Layani' Satelit Militer China?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Peran krusial satelit komersial dalam konflik bersenjata telah menjadi sorotan tajam di kancah global. Dari konflik yang dipicu oleh AS dan Israel di Iran pada Februari lalu, serangan kelompok Houthi di Laut Merah, hingga invasi Rusia ke Ukraina, teknologi satelit terbukti vital dalam memfasilitasi pemantauan pergerakan lawan oleh pihak-pihak yang berseteru.

COLLABMEDIANET

Departemen Luar Negeri AS telah melayangkan peringatan keras mengenai profil CGSTL, menganggapnya berpotensi membahayakan kepentingan Washington. Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS, seperti dikutip pada Senin (20/4/2026), menyatakan, "Kami mengetahui bahwa perusahaan teknologi Tiongkok Chang Guang Satellite Technology Co., Ltd. (CGSTL) telah memberikan dukungan langsung kepada teroris Houthi yang didukung Iran, yang telah melancarkan serangan terhadap kepentingan AS. CGSTL juga memelihara hubungan erat dengan pemerintah dan militer [Tiongkok]."

Kecurigaan ini semakin menguat setelah sebuah komite kongres AS menyurati Pentagon, mengindikasikan kemungkinan Iran mengakses informasi vital mengenai pasukan AS di Teluk melalui entitas antariksa Barat. Namun, KSAT bersikukuh menolak membuka detail kontrak dengan para kliennya, berdalih pada klausul kerahasiaan bisnis. "Kontrak pelanggan kami memuat klausul kerahasiaan standar, sehingga KSAT tidak dapat berkomentar secara publik atau memberikan rincian tentang pelanggan individual. Ini berlaku untuk pelanggan lama maupun yang masih aktif," demikian penegasan juru bicara KSAT melalui surat elektronik.

Di tengah pusaran kontroversi ini, KSAT juga menghadapi ancaman denda dari otoritas Norwegia. NKOM mengancam akan menjatuhkan sanksi finansial kepada KSAT karena terbukti melakukan "komunikasi ilegal" dengan lima satelit melalui stasiun SvalSat di Arktik dan TrollSat di Antartika, tanpa memiliki izin yang sah.

Espen Slette, Direktur Departemen NKOM, menggarisbawahi bahwa serangkaian pelanggaran yang dilakukan KSAT merupakan isu serius yang dapat mengikis kepercayaan internasional. "Sangatlah serius bahwa KSAT telah berkomunikasi dengan satelit tanpa izin dalam beberapa kesempatan. Oleh karena itu, kami memperingatkan potensi denda pelanggaran yang tinggi. Penting bagi pemegang izin untuk menjalankan aktivitas satelit di Antartika dan Svalbard sesuai regulasi, demi menjaga kepercayaan antara otoritas dan pelaku industri, serta antara otoritas Norwegia dan pihak asing," jelas Slette dalam rilis persnya.

Dokumen permohonan lisensi menunjukkan KSAT telah mengajukan izin terkait CGSTL setidaknya dua kali dalam lima tahun terakhir, yaitu pada 2021 dan September 2023, dengan validitas hingga 2028. Namun, langkah ini dicap "absurd" oleh pengamat industri, mengingat CGSTL sendiri telah dikenai sanksi oleh AS, Uni Eropa, Jepang, hingga Taiwan, karena perannya dalam memasok basis industri militer Rusia. John Strand, CEO Strand Consult, menegaskan bahwa tindakan perusahaan pertahanan yang melayani potensi lawan adalah hal yang sangat tidak masuk akal dalam lanskap geopolitik saat ini. "Mengajukan permohonan untuk melayani satelit Tiongkok saja sudah absurd. Satelit-satelit

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar