lintaswarta.co.id melaporkan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur mengidentifikasi 14 gugusan pegunungan di wilayahnya dilanda insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang musim kemarau tahun 2026. Data ini menyoroti skala tantangan serius yang dihadapi Jawa Timur dalam mitigasi bencana alam yang mengancam ekosistem dan lingkungan.
Muhammad Amrul, Ketua Tim Pusat Pengendalian Operasi BPBD Jatim, secara terperinci menguraikan daftar lokasi yang terdampak. Gunung-gunung tersebut meliputi Semeru, Arjuno-Welirang, Bromo, Buthak, Kawinajang, Wilis, Argopuro, Ijen, Raung, Pegat, Payaman, Gede Blitar, Ndangean, dan Lawu. Ini menunjukkan sebaran geografis kebakaran yang luas, mencakup beberapa ikon alam penting serta kawasan hutan lindung di provinsi tersebut.
Meskipun jumlah lokasi telah teridentifikasi, total luasan lahan yang hangus akibat karhutla di 14 kawasan ini masih dalam proses pendataan oleh pihak berwenang. Sementara itu, Satriyo Nurseno, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, memberikan pembaruan terkini mengenai perkembangan penanganan di lima titik operasi utama yang menjadi fokus tim gabungan.

Related Post
Beberapa wilayah menunjukkan hasil positif dalam upaya pemadaman. Kebakaran di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, misalnya, telah berhasil dipadamkan sepenuhnya berkat upaya pemadaman dan modifikasi cuaca yang intensif. Diperkirakan sekitar 200 hektare lahan telah terbakar di sana. Demikian pula, api di Bukit Keciri, Kabupaten Pasuruan, yang diduga berasal dari rembetan Bukit Watangan, kini sudah padam, meskipun luasan kerusakan masih dalam tahap perhitungan. Bagian Gunung Lawu yang masuk wilayah Kabupaten Magetan juga dilaporkan telah berhasil dikendalikan.
Namun, sejumlah titik api masih memerlukan perhatian serius dan penanganan berkelanjutan. Kebakaran di Gunung Kawinajang dan Gunung Buthak, yang membentang di Kabupaten Blitar dan Malang, dilaporkan masih aktif dan telah menghanguskan area seluas kurang lebih 800 hektare, dengan potensi perluasan yang mengkhawatirkan. Di Gunung Lawu, meskipun situasi di Magetan terkendali, tim gabungan masih berfokus pada penanganan titik api di Kabupaten Ngawi, yang meski skalanya kecil sekitar 2 hektare, berpotensi meluas jika tidak segera diatasi. Sementara itu, Gunung Wilis di Kabupaten Nganjuk masih menghadapi kendala pemadaman karena lokasinya yang berada di puncak dengan medan ekstrem dan sulit dijangkau. Dampak kerugian di Wilis juga belum dapat diukur secara pasti oleh petugas di lapangan. Situasi ini menggarisbawahi upaya berkelanjutan dan tantangan kompleks yang dihadapi petugas dalam mengamankan kawasan hutan dari ancaman api yang terus membara.









Tinggalkan komentar