lintaswarta.co.id – Fenomena penggunaan media sosial di tengah masyarakat Indonesia tengah mengalami pergeseran paradigma yang cukup mengkhawatirkan. Jika beberapa tahun lalu platform digital dianggap sebagai angin segar bagi demokrasi, kini kepercayaan masyarakat mulai terkikis oleh dampak negatif yang semakin nyata. Berdasarkan laporan terbaru dari lembaga riset internasional Pew Research Center, terjadi perubahan persepsi yang sangat tajam di kalangan warga negara Indonesia mengenai peran media sosial dalam kehidupan bernegara.
Dalam survei global yang melibatkan 37 negara, ditemukan bahwa secara rata-rata dunia, sekitar 55 persen responden masih melihat sisi positif media sosial bagi demokrasi. Namun, di negara-negara dengan tingkat ekonomi tinggi, sentimen negatif justru mulai mendominasi. Amerika Serikat menjadi salah satu contoh ekstrem, di mana 64 persen warganya meyakini bahwa media sosial justru merusak tatanan demokrasi.
Kondisi di Indonesia menunjukkan tren yang serupa namun dengan kecepatan perubahan yang jauh lebih drastis dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Pada tahun 2023, sebanyak 64 persen warga Indonesia masih optimis bahwa media sosial membawa dampak positif bagi demokrasi. Namun, angka optimisme tersebut merosot tajam menjadi hanya 55 persen pada tahun 2026. Sebaliknya, kelompok masyarakat yang menganggap media sosial sebagai ancaman bagi demokrasi melonjak drastis dari 24 persen menjadi 43 persen. Lonjakan sebesar 19 poin persentase ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan perubahan pandangan paling signifikan di dunia.

Related Post
Masyarakat Indonesia saat ini seolah terjebak dalam dilema digital. Di satu sisi, mayoritas warga mengakui manfaat praktisnya; sebanyak 77 persen merasa media sosial membantu mereka tetap terinformasi mengenai peristiwa terkini, dan 55 persen merasa memiliki ruang untuk bersuara dalam ranah politik. Namun, di sisi lain, kecemasan terhadap penyalahgunaan platform ini sangat tinggi. Sebanyak 66 persen responden sepakat bahwa media sosial telah menjadi alat yang sangat efektif untuk menyebarkan disinformasi atau berita bohong guna memanipulasi opini publik. Selain itu, 55 persen warga merasa bahwa platform digital justru memperlebar jurang polarisasi politik di tengah masyarakat.
Jika dibandingkan dengan negara tetangga, tingkat skeptisisme warga Indonesia jauh lebih tinggi. Di Malaysia, hanya 27 persen warga yang melihat dampak buruk media sosial, sementara di Singapura angkanya hanya 22 persen. Filipina dan Thailand juga menunjukkan angka yang relatif rendah, yakni masing-masing 23 persen dan 21 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia masih berada di kelompok mayoritas yang melihat sisi baik, laju penurunan kepercayaan masyarakat di tanah air jauh lebih cepat dibandingkan negara tetangga.
Penyebab utama dari fenomena ini diduga kuat berkaitan dengan dinamika politik domestik. Di Indonesia, media sosial telah menjadi medan tempur utama dalam setiap ajang pemilihan umum. Maraknya narasi yang memecah belah, penyebaran berita yang belum terverifikasi, serta kampanye hitam yang masif selama periode politik membuat warga merasakan dampak destruktifnya secara langsung.
Menariknya, terdapat perbedaan pandangan yang mencolok berdasarkan kelompok usia. Generasi muda cenderung lebih optimis karena melihat media sosial sebagai sarana partisipasi aktif. Sebaliknya, kelompok usia yang lebih tua merasa lebih khawatir terhadap perubahan suasana digital yang dianggap tidak terkendali dan penuh risiko. Pergeseran ini menjadi sinyal kuat bahwa ruang publik digital di Indonesia sedang berada dalam kondisi yang rentan dan memerlukan perhatian serius agar tidak terus merusak kohesi sosial.









Tinggalkan komentar