Solusi Macet Skytrain Mekarsari Cileungsi

Harimurti

Solusi Macet Skytrain Mekarsari Cileungsi

lintaswarta.co.id – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah serius menjajaki inovasi transportasi baru untuk mengatasi kemacetan di kawasan perkotaan. Salah satu opsi yang kini masuk dalam radar kajian mendalam adalah penggunaan moda kereta gantung bermesin atau yang dikenal dengan istilah Skytrain Suspended Train. Teknologi ini diproyeksikan menjadi solusi konektivitas sebagai pengumpan (feeder) bagi moda transportasi massal yang sudah ada, seperti MRT dan LRT.

Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Intram) Kemenhub, Risal Wasal, menegaskan bahwa konsep Skytrain yang sedang dikaji ini sangat berbeda dengan kereta gantung yang biasa ditemui di tempat wisata seperti Ancol atau Taman Mini. Jika kereta gantung wisata umumnya ditarik menggunakan kabel, Skytrain ini memiliki mesin penggerak sendiri layaknya kereta api konvensional, sehingga lebih mumpuni untuk menjalankan fungsi angkutan umum massal.

Solusi Macet Skytrain Mekarsari Cileungsi
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dalam sebuah forum diskusi perhubungan baru-baru ini, Risal menjelaskan bahwa salah satu alasan utama pemerintah melirik teknologi ini adalah efisiensi biaya. Dibandingkan dengan pembangunan rel kereta api konvensional atau MRT yang membutuhkan investasi sangat besar, Skytrain menawarkan biaya pembangunan yang jauh lebih terjangkau. Berdasarkan estimasi awal, biaya pembangunan mencakup sarana, prasarana, hingga sistem diperkirakan hanya mencapai Rp320 miliar per kilometer.

COLLABMEDIANET

Sebagai gambaran implementasi, Kemenhub sedang mengkaji rute potensial yang menghubungkan kawasan Mekarsari menuju Cileungsi. Rute ini diharapkan dapat menjadi penyambung bagi warga yang ingin mengakses layanan LRT atau MRT dengan lebih cepat dan efisien. Jika proyek ini terealisasi, Skytrain direncanakan memiliki waktu tunggu (headway) yang sangat singkat, yakni antara lima hingga tujuh menit sekali. Dengan kapasitas angkut mencapai 200 penumpang per rangkaian, moda ini dianggap mampu mengurai kepadatan penumpang di jalur tersebut.

Dari sisi ekonomi operasional, hasil studi menunjukkan angka yang cukup menjanjikan. Untuk layanan dengan headway tujuh menit, biaya operasional tahunan diperkirakan hanya berkisar di angka Rp32 miliar. Selain itu, dari segi waktu konstruksi, teknologi ini diklaim memiliki keunggulan karena dapat dibangun dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar satu tahun saja.

Meski terlihat sangat menjanjikan, Kemenhub menekankan bahwa seluruh data tersebut masih dalam tahap kajian teknis dan belum menjadi keputusan final. Aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Kemenhub memastikan bahwa jika teknologi ini diterapkan, seluruh standar teknis harus tunduk pada regulasi ketat yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA).

Risal juga menambahkan bahwa teknologi Skytrain ini bukanlah barang baru yang belum teruji. Keandalannya sudah terbukti karena telah beroperasi secara komersial di lima negara berbeda. Hal ini memberikan rasa aman bagi pemerintah dalam mempertimbangkan aspek keamanan dan keberlanjutan teknologi tersebut untuk diterapkan di Indonesia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar