lintaswarta.co.id – Perayaan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2026 menjadi momentum spesial bagi PT Pertamina (Persero) untuk menunjukkan komitmen nyata dalam melestarikan warisan budaya sekaligus menggerakkan roda ekonomi kerakyatan. Hingga saat ini, perusahaan energi pelat merah tersebut tercatat telah membina sebanyak 428 UMKM batik yang tersebar di berbagai pelosok nusantara.
Namun, ada yang berbeda dari program pembinaan kali ini. Pertamina tidak sekadar mengejar angka pertumbuhan bisnis, melainkan juga membawa misi kemanusiaan yang mendalam. Melalui pemberdayaan UMKM batik, perusahaan berupaya membuka pintu kesempatan yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk dapat berkarya dan mandiri secara ekonomi.
Di Bantul, Yogyakarta, keberhasilan ini tercermin melalui sosok Muhammad Syauki yang mengelola Roona Batik. Usaha fesyen ini telah bertransformasi menjadi bisnis yang sangat produktif dengan kapasitas produksi mencapai 5.000 lembar kain setiap bulannya. Dengan perputaran omzet yang menyentuh angka Rp100 juta per bulan, Roona Batik tidak hanya menjadi mesin ekonomi, tetapi juga menjadi ruang inklusif. Dari 18 tenaga kerja yang ada, sebagian besar merupakan penyandang disabilitas yang memiliki peran krusial dalam proses produksi.

Related Post
Fenomena serupa juga ditemukan pada Batik Jinggar di Yogyakarta. Di bawah kepemimpinan Vitalia Noor Darmaningsih, UMKM ini terus berinovasi dalam menciptakan motif dan desain yang segar. Dengan omzet bulanan sekitar Rp100 juta, Batik Jinggar membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berinovasi, terbukti dengan keterlibatan dua penyandang disabilitas di antara delapan karyawannya.
Tak kalah mengesankan, geliat industri batik juga terasa di tanah Riau. Melalui Canting Batik Tulis Riau, Novita Hermawan berhasil mengangkat kekayaan budaya lokal ke level yang lebih tinggi. Usaha ini mampu meraup omzet hingga Rp150 juta per bulan dengan melibatkan delapan pekerja, di mana mayoritas atau lima orang di antaranya adalah penyandang disabilitas.
Semangat inklusivitas ini juga menyentuh wilayah Boyolali, Jawa Tengah, melalui program Sriekandi Patra. Program ini dirancang khusus untuk mengembangkan keterampilan membatik sekaligus mendorong kemandirian sosial bagi para anggotanya. Kini, kelompok Sriekandi Patra telah memiliki bengkel kerja, peralatan lengkap, hingga modal usaha sendiri. Produk mereka pun berkembang pesat, mulai dari kain batik hingga paket edukasi membatik yang berkolaborasi dengan desainer profesional.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa fokus utama perusahaan adalah menciptakan ekosistem di mana masyarakat dapat tumbuh secara mandiri. Menurutnya, batik adalah simbol bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi.
"Kami ingin memastikan semakin banyak masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan untuk berkarya, memperoleh penghasilan, dan mengembangkan usahanya," ungkap Baron dalam keterangan resminya.
Ia menambahkan bahwa ketika keterampilan bertemu dengan akses pasar yang tepat, batik akan bertransformasi dari sekadar produk budaya menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi. Melalui pembinaan berkelanjutan, Pertamina berkomitmen untuk terus mendorong UMKM agar bisa "naik kelas" dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi bangsa.









Tinggalkan komentar