lintaswarta.co.id – Fenomena alam yang mencengangkan tengah terjadi di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Waduk Jatigede, yang selama ini dikenal sebagai bentang perairan raksasa, kini menunjukkan wajah yang sangat berbeda. Akibat musim kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut, permukaan air waduk menyusut drastis hingga menyingkap kembali daratan yang selama ini tersembunyi di balik kedalaman air.
Pemandangan yang tersaji di lokasi kini jauh dari kesan perairan yang tenang. Alih-alih hamparan air yang luas, masyarakat justru disuguhi pemandangan daratan tandus yang dipenuhi dengan ranting-ranting pohon kering yang mencuat dari dasar waduk. Fenomena ini bukan sekadar perubahan pemandangan biasa, melainkan dampak nyata dari krisis kekeringan yang sedang melanda.
Berdasarkan data teknis dari Badan Informasi Geospasial (BIG), perubahan tutupan genangan di Waduk Jatigede ini menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan. Data menunjukkan adanya penyusutan area perairan yang sangat signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Pada bulan Juli, luas area yang berubah dari genangan menjadi daratan terbuka tercatat mencapai 138,3 hektare.

Related Post
Angka tersebut terus melonjak tajam seiring berjalannya musim kemarau. Pada bulan Agustus, luas daratan yang muncul meningkat menjadi 252,3 hektare. Puncaknya, pada September 2026, luas area terbuka tersebut menyentuh angka 260,01 hektare jika dibandingkan dengan kondisi normal pada bulan Juni. Hal ini menandakan bahwa volume air di waduk tersebut mengalami penurunan yang sangat masif.
Di balik daratan yang muncul, tersimpan memori kelam dan sejarah yang kembali terungkap. Seiring surutnya air, puing-puing bangunan rumah warga yang dahulu tenggelam akibat penggenangan waduk kini kembali tampak ke permukaan. Reruntuhan bangunan ini menjadi saksi bisu kehidupan masyarakat yang harus berpindah demi pembangunan bendungan tersebut.
Tak hanya puing bangunan, situs sejarah yang sangat dihormati juga kembali terlihat. Di kawasan Desa Pakualam, Kecamatan Darmaraja, muncul kembali lokasi makam Prabu Guru Aji Putih beserta istrinya, Ratna Inten. Makam bersejarah ini merupakan salah satu situs yang terdampak saat pembangunan Waduk Jatigede beberapa tahun silam. Kemunculan kembali situs ini memberikan kesan mistis sekaligus melankolis bagi warga yang melintas di sekitar lokasi.
Kondisi ini menciptakan kontras yang tajam di lapangan. Di satu sisi, anak-anak terlihat bermain di area dasar waduk yang mengering, namun di sisi lain, pemandangan ini menjadi alarm keras mengenai dampak perubahan iklim dan kekeringan ekstrem terhadap ketersediaan sumber daya air nasional. Masyarakat kini hanya bisa berharap agar musim penghujan segera tiba untuk mengembalikan kembali kejayaan waduk raksasa ini.







Tinggalkan komentar