lintaswarta.co.id – Dunia otomotif tanah air tengah bersiap menyambut revolusi teknologi kendaraan yang jauh lebih efisien dibandingkan mobil konvensional maupun teknologi hybrid biasa. Sebuah inovasi teknologi bernama Range Extended Electric Vehicle (REEV) kini menjadi sorotan utama karena kemampuannya menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara drastis.
Menteri Perindustrian, M. Sarmuji, mengungkapkan bahwa teknologi REEV ini memiliki efisiensi yang sangat mencengangkan. Kendaraan yang mengadopsi sistem ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 65 kilometer hanya dengan penggunaan satu liter BBM saja. Tidak hanya itu, dalam kondisi pengisian daya dan bahan bakar penuh, kendaraan ini diperkirakan mampu melaju hingga jarak 1.600 kilometer.
"Penghematan BBM-nya sangat signifikan. Dengan teknologi REEV, satu liter bisa menempuh 65 km. Itu luar biasa. Sekali pengisian penuh, jarak tempuhnya bisa mencapai 1.600 km. Jadi, perjalanan pulang pergi Jakarta-Surabaya pun akan terasa sangat aman tanpa khawatir kehabisan energi," ujar Sarmuji saat memberikan keterangan di Jakarta.

Related Post
Menurut Sarmuji, pengembangan teknologi REEV serta plug-in hybrid merupakan langkah strategis pemerintah untuk menekan beban subsidi BBM nasional. Selain memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat, teknologi ini juga dipandang sebagai solusi untuk menurunkan emisi karbon sekaligus memperkuat ketahanan energi di Indonesia.
Keunggulan lain dari teknologi REEV dan plug-in hybrid adalah kemudahan dalam proses transisi industri. Karena masih menggunakan kombinasi baterai dan mesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE), produsen otomotif tidak perlu merombak total lini produksi mereka secara ekstrem. Hal ini memungkinkan industri otomotif nasional untuk beradaptasi lebih cepat dengan teknologi ramah lingkungan.
Menanggapi potensi besar ini, Kementerian Perindustrian berencana untuk segera mendorong pemberian insentif bagi kendaraan jenis REEV, hybrid, dan plug-in hybrid. Selama ini, kebijakan insentif pemerintah memang lebih banyak difokuskan pada mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV).
Rencana insentif yang akan diusulkan mencakup berbagai aspek, mulai dari fasilitas fiskal seperti keringanan pajak, hingga insentif nonfiskal. Fasilitas nonfiskal tersebut meliputi pembebasan aturan ganjil-genap, penyediaan lahan parkir khusus, hingga kemudahan akses pengisian daya. Sarmuji menegaskan bahwa meskipun besaran insentif tidak harus setara dengan mobil listrik murni, dukungan pemerintah tetap krusial untuk memacu pertumbuhan industri berbasis baterai ini.
Di sisi lain, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Putu Juli Ardika, menyebutkan bahwa minat produsen otomotif terhadap teknologi REEV di Indonesia sudah mulai terlihat. Salah satu contohnya adalah rencana peluncuran model BYD M6 DM-i oleh produsen di kawasan Subang.
Putu menambahkan bahwa tren pasar saat ini memang sedang bergeser. Akibat melonjaknya harga BBM, konsumen kini lebih selektif dan cenderung mencari kendaraan yang sangat irit bahan bakar. Hal ini terbukti dari pertumbuhan penjualan mobil penumpang yang didominasi oleh kendaraan hemat energi, sementara penjualan mobil konvensional justru mengalami penurunan yang cukup tajam.









Tinggalkan komentar