Misteri Batu Dasar Laut yang Terbakar Sendiri

Harimurti

Misteri Batu Dasar Laut yang Terbakar Sendiri

lintaswarta.co.id – Sebuah fenomena alam yang sangat tidak lazim baru-baru ini menggemparkan dunia sains di dalam laboratorium penelitian. Sekelompok ilmuwan dikejutkan oleh perilaku aneh dari sampel batuan yang diambil dari kedalaman Samudra Pasifik. Batuan tersebut secara tiba-tiba memanas, mengeluarkan asap, hingga akhirnya terbakar habis menjadi abu sesaat setelah dipatahkan di udara terbuka.

Kejadian misterius ini bermula dari sebuah misi eksplorasi pada tahun 2022. Tim peneliti menggunakan kendaraan penjelajah bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh untuk mengambil sampel di kawasan Escanaba Trough. Lokasi ini merupakan area punggung gunung berapi bawah laut yang masih aktif, terletak di perbatasan antara negara bagian Oregon dan California.

Misteri Batu Dasar Laut yang Terbakar Sendiri
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Setelah sampel tersebut berhasil dibawa ke permukaan dan melalui proses pengeringan, dua buah batuan mulai menunjukkan perilaku yang tidak masuk akal. Ketika para peneliti mencoba mematahkan batu tersebut untuk mengamati struktur bagian dalamnya, permukaan yang baru terbuka justru mulai terasa panas. Tak lama kemudian, asap mulai mengepul dari celah batuan tersebut sebelum akhirnya api menyambar dan menghanguskan seluruh bagian batu hingga menyisakan abu.

COLLABMEDIANET

Setelah melalui investigasi mendalam, para ahli akhirnya menemukan jawaban di balik fenomena "batu api" ini. Penyebab utamanya adalah kandungan mineral khusus berupa besi sulfida yang dikenal sebagai marcasit. Uniknya, mineral marcasit dalam sampel ini memiliki ukuran yang sangat ekstrem, yakni hanya berkisar antara 5 hingga 16 nanometer. Sebagai perbandingan, ukuran ini ribuan kali lebih tipis daripada sehelai rambut manusia.

Karena ukurannya yang sangat halus, mineral ini memiliki luas permukaan yang sangat besar dibandingkan volumenya. Hal ini memicu reaksi kimia yang sangat agresif saat bersentuhan dengan oksigen di atmosfer. Reaksi oksidasi tersebut menghasilkan panas yang sangat intens. Jika suhu panas yang dihasilkan melampaui kemampuan lingkungan untuk menyerapnya, maka suhu batuan akan terus meningkat secara mandiri hingga mencapai titik bakar.

Kondisi di dasar laut yang sangat berbeda menjadi kunci mengapa batu ini tetap stabil saat berada di kedalaman. Di habitat aslinya, suhu air hanya berkisar 2 derajat Celsius dengan kadar oksigen yang sangat minim. Hal ini membuat reaksi kimia berjalan sangat lambat sehingga mineral tetap aman. Namun, begitu dibawa ke permukaan yang hangat dan kaya oksigen, reaksi tersebut terakselerasi secara tak terkendali.

Penemuan ini bukan sekadar anomali ilmiah, melainkan peringatan serius bagi industri pertambangan laut dalam. Kawasan punggung laut seperti ini diketahui kaya akan logam berharga seperti tembaga dan seng. Saat ini, rencana penambangan di Samudra Atlantik dan Samudra Hindia sedang digarap secara serius. Para peneliti memperingatkan bahwa protokol keselamatan saat ini belum siap menghadapi risiko batuan yang dapat terbakar secara spontan, yang berpotensi membahayakan nyawa para pekerja di atas kapal penambang.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar