lintaswarta.co.id – Dunia politik internasional tengah menyoroti penampilan perdana Sekretaris Pers Gedung Putih yang baru, Katie Zacharia. Alih-alih memberikan kesan profesional, debut Zacharia di ruang pengarahan pada Selasa lalu justru memicu gelombang kritik karena gaya bicaranya yang dinilai sangat kaku, minim ekspresi, dan menyerupai avatar kecerdasan buatan (AI).
Melansir laporan dari The Guardian, penampilan perempuan berusia 41 tahun ini dianggap sangat janggal. Selama 14 menit berbicara, Zacharia tampak sangat gugup, jarang melakukan kontak mata dengan jurnalis, dan membacakan poin-poin pembicaraan pro-Trump tanpa emosi sedikit pun. Ketegangan semakin terasa saat ia hanya mampu menjawab tiga pertanyaan sebelum akhirnya langsung meninggalkan mimbar.
Secara visual, Zacharia tampil dengan estetika yang sangat mirip dengan para pendahulunya di era Trump, seperti Kayleigh McEnany dan Karoline Leavitt. Dengan rambut pirang, riasan tebal, serta jaket gelap berhiaskan kancing emas besar, ia tampak berusaha keras membangun citra tertentu. Namun, performanya justru mengingatkan publik pada kegagalan Sean Spicer, jubir pertama Trump, yang seringkali membacakan klaim yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Related Post
Salah satu momen yang memicu kecaman adalah ketika Zacharia membacakan klaim mengenai rekor jumlah penonton di acara kampanye Trump. Ia menyebutkan kehadiran warga sangat memadati arena, padahal kenyataan di lokasi menunjukkan banyak kursi kosong dan situasi yang tidak kondusif akibat gangguan pengunjuk rasa.
Keanehan semakin memuncak saat sesi tanya jawab berlangsung. Ketika ditanya oleh koresponden Fox News, Peter Doocy, mengenai status berbagi intelijen Amerika Serikat dengan Ukraina, Zacharia tampak terdiam sejenak seperti mesin yang mengalami gangguan sistem (glitch). Ia hanya menjawab singkat bahwa ia harus menghubungi kembali reporter tersebut untuk jawaban lebih lanjut.
Namun, kejutan besar justru muncul saat media Daily Mail melontarkan pertanyaan mengenai skandal suap yang menyeret Duta Besar AS untuk Yunani, Kimberly Guilfoyle. Dengan nada dingin, Zacharia secara mengejutkan mengumumkan bahwa pemerintah telah meminta Guilfoyle untuk mengundurkan diri.
Selain itu, Zacharia juga sempat mengalami kesalahan ucap yang fatal saat menjawab pertanyaan mengenai kehidupan pribadinya. Ia sempat salah menyebut istilah "Presiden" saat merujuk pada suaminya, sebelum akhirnya mengoreksinya. Ia juga sempat memberikan pujian berlebihan dengan menyebut Donald Trump sebagai presiden paling ramah keluarga yang pernah ada.
Meskipun performanya menuai banyak kritik, Donald Trump justru memberikan pembelaan. "Saya pikir dia sangat bagus," ujar Trump singkat.
Di sisi lain, para kritikus tidak tinggal diam. Kelompok anti-Trump, Lincoln Project, mengejek Zacharia dengan membandingkannya dengan sebuah selada, sebuah sindiran yang merujuk pada kegagalan politik Liz Truss di Inggris. Bahkan, mantan Direktur Komunikasi Trump, Anthony Scaramucci, ikut melontarkan komentar sinis yang meremehkan masa jabatan Zacharia yang masih sangat singkat.









Tinggalkan komentar