Terungkap! Strategi China Raup Untung dari Kisruh AS-Iran

Harimurti

Terungkap! Strategi China Raup Untung dari Kisruh AS-Iran

Lintaswarta.co.id melaporkan bahwa Republik Rakyat China tengah menavigasi kompleksitas geopolitik di Timur Tengah dengan strategi ‘dua kaki’ yang cerdik. Di tengah memanasnya konflik antara blok Amerika Serikat-Israel dan Iran, Beijing secara aktif merajut diplomasi dengan Teheran, sembari mempersiapkan pertemuan krusial antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump bulan depan. Langkah ini bukan tanpa alasan, melainkan demi mengamankan kepentingan strategis China sebagai importir minyak mentah terbesar dunia.

Pendekatan hati-hati China ini tidak terlepas dari ketergantungannya pada pasokan energi dari Timur Tengah, di mana separuh kebutuhan minyaknya berasal dari kawasan tersebut. Oleh karena itu, stabilitas regional menjadi prioritas utama Beijing. Uniknya, Washington sendiri mengakui peran China dalam meredakan ketegangan. Presiden Trump bahkan memberikan apresiasi kepada Beijing karena mendorong Iran untuk hadir dalam pembicaraan damai yang digelar di Pakistan baru-baru ini.

Terungkap! Strategi China Raup Untung dari Kisruh AS-Iran
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Anda telah mendengar Presiden Trump berulang kali menyebut bagaimana pihak China berbicara dengan Iran," ujar Eric Olander, pemimpin redaksi China-Global South Project, seperti dilansir Reuters. "Hal itu menempatkan mereka di ruang negosiasi, bahkan jika bukan di meja utama."

COLLABMEDIANET

Di balik layar, sumber yang memahami pemikiran pemerintah China mengungkapkan bahwa Beijing juga memanfaatkan momentum ini untuk memajukan agenda lain, termasuk isu perdagangan dan Taiwan, menjelang pertemuan Xi-Trump. Dengan menilai Trump sebagai sosok yang "transaksional dan mudah dipengaruhi pujian," China berupaya "memberinya sambutan karpet merah dan menjaga stabilitas strategis" demi kelancaran negosiasi.

Di satu sisi, Beijing meningkatkan aktivitas diplomatiknya di tengah tekanan yang meningkat, termasuk blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran. Namun, China sengaja menahan diri untuk tidak melontarkan kritik keras terhadap langkah militer Washington. Sikap ini diambil demi menjaga atmosfer positif untuk pertemuan Xi-Trump yang sempat tertunda akibat eskalasi konflik.

Presiden Xi Jinping sendiri pada Selasa lalu menyampaikan rencana perdamaian empat poin yang menekankan koeksistensi damai, kedaulatan negara, supremasi hukum internasional, serta keseimbangan antara pembangunan dan keamanan. Kendati demikian, ketika Trump melontarkan peringatan keras bahwa "seluruh negara bisa dihancurkan dalam satu malam," juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, hanya menyatakan Beijing "sangat prihatin" dan mendesak semua pihak untuk memainkan "peran konstruktif dalam meredakan situasi."

Intensitas diplomasi China terlihat jelas dari upaya para pejabatnya. Menteri Luar Negeri Wang Yi telah melakukan hampir 30 panggilan telepon dan pertemuan dengan mitra internasional untuk mendorong gencatan senjata. Sementara itu, utusan khusus Zhai Jun melakukan tur ke lima ibu kota negara Teluk dan Arab, bahkan harus menempuh jalur darat untuk menghindari wilayah udara yang bergejolak, di mana ia mengaku sempat mendengar sirene serangan udara.

Pertemuan Xi dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, juga menjadi bagian dari strategi China untuk mempererat hubungan dengan pihak lain di kawasan, termasuk rival Iran, sembari terus mendorong Teheran menuju dialog.

Meskipun terlihat sangat aktif, sejumlah analis menilai ruang pengaruh China tetap terbatas. Beijing memang berperan dalam mendorong Iran ke meja perundingan, namun tidak memiliki kehadiran militer yang signifikan di Timur Tengah yang dapat memperkuat tekanan diplomatiknya. Profesor hubungan internasional Universitas Renmin, Cui Shoujun, mencatat bahwa "rasa urgensi dan mode intervensi pada tingkat taktis China sedang berubah" seiring konflik yang berlarut sejak dimulai pada 28 Februari.

Namun, Drew Thompson dari S. Rajaratnam School of International Studies berpendapat bahwa posisi China tetap menguntungkan. "Hasil ideal Beijing adalah mempertahankan hubungan tanpa syarat dengan negara anti-Barat seperti Iran, tetapi juga menjaga peluang untuk mencapai semacam modus vivendi dengan AS," jelasnya.

Di sisi lain, ada pandangan skeptis terhadap peran China. Patricia Kim dari Brookings Institution menilai diplomasi Beijing lebih bersifat simbolis. "Meskipun Iran ingin menonjolkan hubungan mereka dengan China dan meminta Beijing menjadi penjamin gencatan senjata, China menunjukkan nol minat untuk mengambil peran tersebut," katanya. "China tampaknya cukup puas berada di pinggir lapangan sementara Amerika Serikat menanggung tekanan utama."

Pertemuan Xi dan Trump sendiri diperkirakan akan fokus pada isu-isu praktis. China disebut bisa menyetujui pembelian pesawat Boeing dalam jumlah besar, yang berpotensi menjadi transaksi terbesar dalam sejarah, serta meningkatkan impor produk pertanian dari AS. Namun, para analis seperti Scott Kennedy dari Center for Strategic and International Studies, menilai pembahasan tidak akan menyentuh isu-isu besar seperti tata kelola kecerdasan buatan, akses pasar, atau kelebihan kapasitas industri. "Tidak ada peluang sama sekali bagi China untuk mencapai kesepakatan besar dengan Amerika Serikat," pungkasnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar