lintaswarta.co.id, Yogyakarta – Simpang Tiga Gejayan, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY, menjadi saksi bisu gelombang protes pada Sabtu, 14 Juni sore. Ratusan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil turun ke jalan, menyuarakan ketidakpuasan terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat serta kondisi ekonomi nasional yang kian membebani masyarakat. Massa mulai memadati lokasi sekitar pukul 15.30 WIB, sesaat setelah hujan reda, membawa semangat perlawanan yang membara.
Spanduk dan poster dengan pesan-pesan tajam mewarnai area aksi. Salah satu yang menarik perhatian berbunyi, ‘Jika Rupiah Melemah, Kita Kuatkan Perlawanan ke Pemerintah,’ sementara poster lain menegaskan, ‘The Workers and Farmers of this Country are Smarter than The Government.’ Orasi-orasi berapi-api silih berganti dilantunkan dari atas mobil komando, menggemakan kritik keras terhadap pemerintah. "Selamat datang di negeri ngompol, pejabat kayak maling, rupiah makin ambrol," pekik seorang orator, disambut riuh massa. Bahkan, Guru Besar Ilmu Media dan Jurnalisme UII, Masduki, turut hadir dan menyerukan agar Presiden dan Wakil Presiden meninjau ulang program-program yang menjadi sorotan publik.
Sebanyak sepuluh poin tuntutan utama disuarakan oleh Aliansi Rakyat Memanggil. Di antaranya adalah desakan untuk menghentikan kebijakan kontroversial seperti Program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, serta menuntut pencabutan revisi undang-undang krusial seperti UU TNI, UU Polri, UU Kejaksaan, dan UU Peradilan Militer. Mereka juga menuntut perlindungan kebebasan sipil, pengakhiran impunitas aparat, pembebasan tahanan politik, dan penghentian kriminalisasi terhadap pengkritik pemerintah. Lebih lanjut, massa mendesak pemenuhan hak dasar rakyat seperti pendidikan dan layanan kesehatan gratis, peningkatan kesejahteraan ekonomi, perlindungan hak pekerja, perbaikan regulasi transportasi daring, serta jaminan hak atas tanah dan ruang hidup layak. Penghentian penggusuran paksa dan pengusutan tuntas kasus korupsi Stadion Mandala Krida di Yogyakarta juga menjadi bagian tak terpisahkan dari seruan mereka.

Related Post
Meski sempat berlangsung kondusif hingga pukul 17.30 WIB dengan penutupan akses jalan, suasana memanas ketika sebagian besar massa memilih bertahan dan menolak membubarkan diri. Pembakaran ban dan water barrier di pertigaan sebelah utara menjadi puncak ketegangan. Kobaran api masih terlihat saat akses lalu lintas dari arah utara dibuka kembali. Dua kali letusan terdengar, salah satunya diduga berasal dari kaleng cat semprot yang ikut terbakar. Sekitar pukul 18.28 WIB, lalu lintas di Pertigaan Gejayan akhirnya dibuka penuh. Namun, beberapa peserta yang masih bertahan tetap menyuarakan protes, meminta pengendara yang melintas untuk membunyikan klakson sebagai bentuk solidaritas dan ketidakpuasan terhadap pemerintah. Suara klakson yang bersahutan pun menjadi penutup aksi yang penuh dinamika tersebut.









Tinggalkan komentar