Charles III Beri Hadiah Spesial untuk Trump, Ada Apa?
Lintaswarta.co.id – Sebuah momen bersejarah tercipta di Gedung Putih, Washington, D.C., pada Selasa (28/4/2026), ketika Raja Charles III dari Inggris, didampingi Ratu Camilla, menghadiri jamuan makan malam kenegaraan bersama Presiden AS Donald Trump. Kunjungan ini menandai lawatan perdana Raja Charles III ke Amerika Serikat dalam kapasitasnya sebagai kepala monarki Inggris, sebuah peristiwa yang sarat makna diplomatik.
Dalam suasana jamuan yang hangat, sorotan tertuju pada pidato Raja Charles III. Ia secara khusus menyinggung keberadaan kapal selam HMS Trump, sebuah nama yang tak asing bagi tuan rumah. Kapal selam tersebut, yang diluncurkan pada tahun 1944 dan kemudian bertugas bersama pasukan yang berbasis di Australia selama Perang Pasifik, dinamai untuk menghormati presiden Amerika Serikat.
Sebagai simbol ikatan sejarah dan harapan kerja sama di masa depan, Raja Charles III mempersembahkan hadiah pribadi yang unik: sebuah lonceng asli dari menara komando kapal selam tersebut. Dengan nada humor, Raja menambahkan, "Jika Anda perlu menghubungi kami, cukup hubungi kami." Isyarat ini memperkuat pesan tentang kedekatan dan keterbukaan hubungan bilateral.

Related Post
Sebelumnya dalam rangkaian kunjungan kenegaraan empat hari ini, Raja Charles III telah menyampaikan pidato di hadapan Kongres AS. Ia menegaskan bahwa di tengah era ketidakpastian dan konflik yang melanda Eropa serta Timur Tengah, Inggris dan Amerika Serikat akan senantiasa menjadi sekutu setia, bersatu dalam membela nilai-nilai demokrasi. Pernyataan ini muncul di tengah realitas adanya perpecahan mendalam antara kedua sekutu lama tersebut, khususnya terkait isu perang dengan Iran.
Memang, lawatan kerajaan ini berlangsung di tengah ketegangan hubungan diplomatik antara kedua negara. Presiden Trump sebelumnya berulang kali melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menudingnya kurang memberikan bantuan dalam memajukan upaya perang melawan Iran. Situasi ini menambah lapisan kompleksitas pada kunjungan yang seharusnya merayakan persahabatan abadi, sekaligus menyoroti dinamika geopolitik yang terus berkembang.









Tinggalkan komentar