lintaswarta.co.id – Aktivitas vulkanik di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan yang signifikan. Gunung Api Anak Krakatau dilaporkan kembali mengalami erupsi pada Senin malam, 5 Oktober 2026. Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), peristiwa erupsi ini terjadi tepat pada pukul 20.13 WIB.
Meskipun aktivitas vulkanik kembali meningkat, laporan awal menyebutkan bahwa tinggi kolom abu dari erupsi kali ini tidak dapat teramati secara visual. Namun, aktivitas ini tetap terekam dengan jelas melalui alat seismogram. Data menunjukkan adanya amplitudo maksimum mencapai 55 mm dengan durasi erupsi sementara diperkirakan berlangsung sekitar 6 menit 29 detik. Badan Geologi juga memberikan catatan penting bahwa proses erupsi tersebut dilaporkan masih berlangsung saat laporan resmi diterbitkan.
Menyikapi situasi ini, otoritas terkait mengeluarkan peringatan keras bagi masyarakat luas. Saat ini, Gunung Api Anak Krakatau masih berada pada Status Level II atau kategori Waspada. Sebagai langkah mitigasi bencana, masyarakat, wisatawan, pendaki, maupun pengunjung sangat dilarang untuk mendekati kawasan kawah aktif. Rekomendasi keamanan menetapkan radius aman minimal 2 kilometer dari pusat kawah untuk menghindari potensi bahaya yang tidak terduga.

Related Post
Perlu diingat bahwa kondisi gunung api ini memang sempat mengalami fluktuasi aktivitas yang cukup ekstrem dalam beberapa bulan terakhir. Pada 21 September 2026 lalu, status gunung ini sebenarnya sempat diturunkan dari Level III (Siaga) ke Level II (Waspada). Penurunan status tersebut dilakukan setelah adanya evaluasi menyeluruh terhadap penurunan intensitas kegempaan vulkanik dan deformasi gunung.
Sebagai informasi tambahan, Gunung Api Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang terletak di perairan Selat Sunda, secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Mengingat lokasinya yang strategis namun berisiko, pemantauan dilakukan secara intensif melalui dua pos pengamatan, yakni Pos Kalianda di Lampung Selatan dan Pos Pasauran di Kabupaten Serang, Banten.
Sebelumnya, pada periode Juli hingga September 2026, Anak Krakatau menunjukkan aktivitas yang sangat tinggi. Tercatat gunung ini mengalami sebanyak 224 kali erupsi hingga awal September. Bahkan, sempat terjadi erupsi menerus selama 25 jam yang memicu aliran lava ke arah barat laut hingga barat daya. Meski sempat menunjukkan tren penurunan aktivitas pada akhir September, erupsi terbaru pada 5 Oktober ini menjadi pengingat bagi warga di sekitar Selat Sunda untuk tetap siaga dan selalu mengikuti instruksi terbaru dari pihak berwenang guna menghindari risiko bencana alam.









Tinggalkan komentar