lintaswarta.co.id – Situasi di ibu kota India, New Delhi, berubah menjadi mencekam saat aparat keamanan melakukan tindakan represif terhadap massa yang menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran. Puluhan demonstran, termasuk sejumlah tokoh penting dari kubu oposisi, dilaporkan ditangkap dan diseret paksa oleh petugas kepolisian di tengah ketegangan yang menyelimuti kota tersebut.
Aksi protes yang berlangsung pada Sabtu (10/10/2026) ini merupakan puncak dari rangkaian demonstrasi yang telah berlangsung sejak pekan lalu. Massa yang tergabung dalam gerakan pemuda "Cockroach" turun ke jalan dengan satu tuntutan utama: mendesak pengunduran diri Kepala Komisioner Pemilihan Umum India, Gyanesh Kumar. Mereka menuding adanya ketidakberesan dalam proses administrasi pemilu yang dianggap mencederai prinsip demokrasi.
Ketegangan semakin memuncak ketika ribuan personel keamanan dikerahkan untuk membendung arus massa. Pemerintah setempat bahkan mengambil langkah ekstrem dengan melakukan pembatasan ketat, mulai dari penghentian layanan transportasi publik hingga gangguan pada jaringan telekomunikasi di sejumlah titik strategis. Langkah ini diduga kuat dilakukan untuk memutus koordinasi antar-demonstran dan meredam eskalasi massa di lapangan.

Related Post
Salah satu poin krusial yang memicu kemarahan publik adalah laporan mengenai revisi daftar pemilih yang dinilai sangat kontroversial. Berdasarkan informasi yang beredar, terdapat penghapusan sekitar 130 juta nama pemilih dari daftar resmi. Para kritikus dan aktivis mencurigai bahwa revisi ini dilakukan secara sengaja untuk menguntungkan Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi.
Di tengah kekacauan, suasana haru dan amarah terlihat jelas di lokasi aksi. Seorang demonstran perempuan sempat memberikan pernyataan singkat sebelum akhirnya diseret oleh petugas. "Kami tidak sedang menyerang politisi atau partai tertentu. Fokus kami adalah melawan kebijakan yang cacat dan tidak adil," tegasnya dengan nada getir sebelum dibawa paksa oleh polisi.
Tak hanya massa akar rumput, tokoh-tokoh politik senior pun turut menjadi sasaran penangkapan. Mantan Kepala Menteri Kerala, Pinarayi Vijayan, terlihat bersama sejumlah pemimpin oposisi lainnya di kawasan Jantar Mantar sebelum akhirnya mereka dibawa menggunakan kendaraan polisi. Selain itu, pendiri Cockroach Janta Party (CJP), Abhijeet Dipke, beserta dua petinggi senior lainnya, Saurav Das dan Ashutosh Ranka, juga dilaporkan telah diamankan pihak berwenang sesaat setelah mereka tiba di Delhi dari Mumbai.
Meskipun pihak kepolisian Delhi sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keras dan menyatakan tidak memberikan izin resmi untuk aksi bertajuk "Menyelamatkan Demokrasi" ini, kelompok CJP tetap bersikeras melanjutkan aksi. Mereka menegaskan bahwa turun ke jalan adalah bentuk pelaksanaan hak dasar warga negara yang dilindungi konstitusi. Hingga berita ini diturunkan, situasi di New Delhi masih dalam pengawasan ketat seiring dengan upaya massa untuk tetap menyuarakan aspirasi mereka di tengah tekanan aparat.






Tinggalkan komentar