lintaswarta.co.id – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Geologi di bawah naungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), gunung tertinggi di Pulau Jawa ini dilaporkan mengalami erupsi pada Jumat pagi, 9 Oktober 2026. Peristiwa ini memicu kekhawatiran warga di sekitar lereng gunung karena intensitas abu yang cukup tebal.
Erupsi pertama kali terdeteksi pada pukul 04.03 WIB. Melalui pengamatan alat pemantau, terlihat kolom abu vulkanik membubung tinggi ke langit dengan ketinggian mencapai kurang lebih 700 meter dari titik puncak. Jika dihitung dari permukaan laut, posisi abu tersebut berada di ketinggian sekitar 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Badan Geologi menjelaskan bahwa kolom abu yang terpantau memiliki warna putih hingga kelabu dengan konsentrasi yang cukup tebal. Arah sebaran abu cenderung bergerak menuju ke sisi utara. Berdasarkan data seismogram, erupsi ini tercatat memiliki amplitudo maksimum sebesar 19 mm dengan durasi kejadian sekitar 2 menit 19 detik. Mengingat aktivitas yang terus meningkat, saat ini status Gunung Semeru telah resmi dinaikkan menjadi Level III atau berstatus Siaga.

Related Post
Menanggapi situasi yang kian dinamis ini, pihak berwenang mengeluarkan serangkaian rekomendasi ketat demi keselamatan masyarakat dan wisatawan. Langkah antisipasi ini sangat krusial mengingat potensi bahaya yang bisa datang sewaktu-waktu, mulai dari awan panas hingga aliran lahar dingin.
Pertama, masyarakat dan pihak terkait dilarang keras melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, khususnya di sepanjang aliran Besuk Kobokan dalam radius 13 kilometer dari puncak. Selain itu, bagi warga yang berada di luar radius tersebut, tetap diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di sepanjang sempadan sungai dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko perluasan awan panas dan aliran lahar yang diprediksi bisa mencapai jarak 17 kilometer dari pusat erupsi.
Kedua, zona bahaya ditetapkan dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Area ini sangat rawan terhadap ancaman lontaran batu pijar yang dapat membahayakan nyawa jika berada terlalu dekat dengan pusat kawah.
Ketiga, warga diminta untuk selalu waspada terhadap potensi awan panas, guguran lava, serta aliran lahar yang mengikuti lembah dan sungai yang berhulu di puncak Semeru. Fokus pengawasan diarahkan pada aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Selain itu, potensi lahar juga perlu diwaspadai pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi di area puncak.
Masyarakat diharapkan tetap tenang namun selalu siaga mengikuti instruksi dari petugas BPBD dan pihak terkait lainnya. Melalui informasi yang akurat dari lintaswarta.co.id, diharapkan warga dapat mengambil langkah preventif yang tepat demi menghindari dampak bencana vulkanik ini.









Tinggalkan komentar