Lintaswarta.co.id melaporkan bahwa jumlah miliarder di Rusia kini mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, sebuah paradoks di tengah gejolak perang Ukraina. Namun, di balik rekor kekayaan ini, para konglomerat super kaya Rusia justru kehilangan pengaruh politik mereka secara signifikan. Para oligarki yang dulunya sangat berkuasa kini secara diam-diam beralih menjadi pendukung setia Kremlin, sebuah fenomena yang menunjukkan kegagalan sanksi Barat dalam memecah belah elit ekonomi Rusia.
Presiden Vladimir Putin, dengan strategi kombinasi tekanan tanpa henti dan imbalan ekonomi yang menggiurkan, berhasil mengukuhkan loyalitas para pengusaha ini di bawah panji pemerintahannya.
Mantan taipan perbankan, Oleg Tinkov, memberikan gambaran jelas tentang cara kerja rezim Putin. Sehari setelah ia secara terbuka mengkritik invasi ke Ukraina sebagai tindakan "gila" melalui unggahan Instagram, eksekutif banknya, Tinkoff Bank – yang saat itu merupakan bank terbesar kedua di Rusia – langsung dihubungi oleh Kremlin. Ancaman nasionalisasi bank melayang di udara jika hubungan dengan sang pendiri tidak segera diputus.

Related Post
"Saya tidak punya pilihan untuk bernegosiasi harga. Kami seperti disandera, harus menerima tawaran yang ada," ungkap Tinkov, seperti dikutip BBC. Tak sampai seminggu, perusahaan yang terafiliasi dengan Vladimir Potanin, salah satu pengusaha terkaya Rusia yang dikenal sebagai pemasok nikel untuk jet tempur, mengumumkan pembelian bank tersebut. Nilai penjualan yang fantastis, hanya sekitar 3% dari nilai sebenarnya, membuat Tinkov kehilangan hampir US$9 miliar kekayaannya dan terpaksa meninggalkan Rusia.
Situasi ini sangat kontras dengan era pasca-pecahnya Uni Soviet, di mana beberapa individu Rusia berhasil mengumpulkan kekayaan luar biasa dengan mengambil alih perusahaan negara dan memanfaatkan peluang kapitalisme yang baru tumbuh. Boris Berezovsky, salah satu oligarki paling berpengaruh yang bahkan mengklaim berperan dalam mengangkat Putin ke kursi kepresidenan pada tahun 2000, kemudian menghabiskan bertahun-tahun menyesali keputusannya. Ia ditemukan tewas secara misterius di pengasingan di Inggris, menandai "kematian" kekuatan politik oligarki Rusia.
Sejak awal kekuasaannya, Putin memang secara sistematis melucuti pengaruh politik para oligarki. Mereka yang berani menentang garis Kremlin akan dihukum berat, seperti Mikhail Khodorkovsky, mantan orang terkaya Rusia yang dipenjara selama sepuluh tahun setelah mendukung gerakan pro-demokrasi.
Jumlah Konglomerat Rusia Melonjak di Tengah Perang
Beberapa jam setelah memerintahkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada 24 Februari 2022, Putin mengumpulkan para konglomerat terkaya Rusia di Kremlin. Pertemuan itu menunjukkan ketidakberdayaan mereka, meskipun invasi tersebut akan berdampak besar pada kekayaan mereka. "Saya berharap dalam kondisi baru ini, kita akan bekerja sama sebaik sebelumnya, dan tetap efektif," ujar Putin kala itu. Seorang jurnalis menggambarkan para miliarder yang hadir terlihat pucat dan kurang tidur, menyiratkan ketegangan yang mendalam.
Majalah Forbes mencatat, dalam setahun hingga April 2022, jumlah miliarder Rusia anjlok dari 117 menjadi 83, dengan kerugian kolektif mencapai US$263 miliar atau sekitar 27% dari total kekayaan mereka, akibat perang, sanksi, dan pelemahan rubel.
Namun, tahun-tahun berikutnya justru menjadi berkah bagi mereka yang terintegrasi dalam "ekonomi perang" Putin. Pengeluaran militer yang masif mendorong pertumbuhan ekonomi Rusia lebih dari 4% per tahun pada 2023 dan 2024, menguntungkan bahkan bagi miliarder yang tidak secara langsung terlibat dalam kontrak pertahanan. Giacomo Tognini dari tim Forbes Wealth mengungkapkan, pada tahun 2024, lebih dari separuh miliarder Rusia terlibat dalam rantai pasok militer atau meraup keuntungan signifikan dari invasi tersebut. "Itu belum termasuk mereka yang tidak terlibat langsung, namun tetap memerlukan koneksi kuat dengan Kremlin. Bisa dibilang, setiap pengusaha di Rusia harus memiliki hubungan dengan pemerintah," jelas Tognini kepada BBC.
Alhasil, tahun ini, jumlah miliarder di Rusia kembali memecahkan rekor, mencapai 140 orang menurut daftar Forbes. Kekayaan kolektif mereka, yang mencapai US$580 miliar, hanya terpaut US$3 miliar dari rekor tertinggi sebelumnya. Sambil memanjakan para loyalis dengan keuntungan, Putin tak segan menghukum mereka yang berani menentang kebijakannya. Sejak invasi, hampir semua konglomerat super kaya Rusia memilih bungkam, dan sangat sedikit yang berani menentangnya secara terbuka. Mereka yang melakukannya seringkali harus meninggalkan negara dan sebagian besar kekayaannya.
Ironisnya, upaya sanksi yang digencarkan negara-negara Barat untuk mendorong para miliarder ini menjadi oposisi Putin justru berbalik arah. "Barat secara tidak sengaja telah memastikan miliarder Rusia tetap bersatu di belakang bendera," kata Alexander Kolyandr dari Center for European Policy Analysis (CEPA). Ia menambahkan, "Tidak ada rencana, ide, atau jalan jelas bagi mereka untuk meninggalkan kapal. Aset disanksi, rekening dibekukan, properti disita. Semua itu justru efektif membantu Putin memobilisasi miliarder, aset, dan uang mereka untuk mendukung ekonomi perang Rusia." Giacomo Tognini dari Forbes bahkan mencatat, pada tahun 2024, 11 miliarder baru muncul di Rusia melalui mekanisme ini.
Fenomena ini terjadi karena eksodus perusahaan asing pasca-invasi menciptakan kekosongan pasar yang segera diisi oleh pengusaha pro-Kremlin. Mereka diizinkan membeli aset-aset menguntungkan dengan harga sangat murah, sehingga secara efektif menciptakan "tentara" loyalis baru yang berpengaruh dan aktif, demikian analisis Alexandra Prokopenko dari Carnegie Russia Eurasia Center.









Tinggalkan komentar