lintaswarta.co.id – Persaingan antara Liverpool dan Manchester City bukan sekadar adu taktik di atas rumput hijau, melainkan juga perang dingin di meja negosiasi bursa transfer. Di balik dominasi Manchester City dalam satu dekade terakhir, tersimpan narasi pilu bagi pendukung Liverpool. Sejumlah pemain yang seharusnya menjadi pilar di Anfield, justru berakhir menjadi mesin pemenang bagi rival mereka di Etihad Stadium.
Kisah ini semakin terasa getir di tengah sorotan tajam terhadap Manchester City. Klub berjuluk The Citizens tersebut tengah menghadapi badai hukum setelah Premier League menyatakan mereka bersalah atas 114 tuduhan pelanggaran aturan keuangan. Tuduhan mengenai manipulasi laporan keuangan senilai 900 juta poundsterling selama periode 2009 hingga 2018 ini seolah memberikan warna baru dalam sejarah persaingan kedua klub. Meski City membantah dan mengajukan banding, fakta di lapangan menunjukkan betapa agresifnya mereka dalam membangun kekuatan finansial.
Salah satu kegagalan paling fatal bagi Liverpool adalah saat mereka kehilangan Gareth Barry pada 2009. Saat itu, Rafael Benitez sangat menginginkan Barry untuk menggantikan peran Xabi Alonso. Meski tawaran hingga 15 juta poundsterling telah diajukan, Aston Villa tetap bersikeras menolak. Akhirnya, City yang bergerak lebih taktis berhasil mengamankan Barry hanya dengan 12 juta poundsterling. Barry kemudian menjadi bagian dari skuad yang meruntuhkan dominasi klub lain dan meraih gelar Liga Inggris pertama mereka.

Related Post
Tak berhenti di situ, Liverpool juga melewatkan kesempatan emas untuk mendapatkan David Silva. Gelandang maestro asal Spanyol ini sebenarnya sudah masuk dalam radar Liverpool cukup lama. Namun, kecepatan finansial Manchester City dalam menyepakati transfer senilai 24 juta poundsterling membuat Liverpool tertinggal. Silva kemudian menjelma menjadi legenda hidup di Manchester, mengoleksi 13 trofi, hingga namanya diabadikan dalam sebuah patung.
James Milner juga menjadi nama yang mempertegas dominasi City dalam memenangkan hati pemain. Pada 2010, City berhasil mengungguli Liverpool dan Manchester United dalam perburuan Milner. Meski Milner akhirnya kembali ke Liverpool pada 2015 dan menjadi pahlawan di era Jurgen Klopp, keputusannya memilih City di masa lalu telah membantu membangun fondasi kekuatan tim asuhan Sheikh Mansour.
Puncak dari drama transfer ini adalah kepindahan Raheem Sterling pada 2015. Berbeda dengan pemain lainnya, Sterling justru meninggalkan Anfield menuju Manchester dengan nilai transfer rekor saat itu, yakni 49 juta poundsterling. Perselisihan kontrak yang panas dan sikap keras agen sang pemain membuat Liverpool terpaksa melepas aset berharganya ke tangan rival langsung.
Rentetan peristiwa ini membuktikan bahwa dominasi Manchester City tidak hanya dibangun melalui strategi lapangan, tetapi juga melalui kekuatan finansial yang masif dan ambisi proyek olahraga yang sangat meyakinkan para pemain bintang. Bagi Liverpool, sejarah transfer ini akan selalu menjadi pengingat tentang betapa tipisnya jarak antara kejayaan dan kegagalan dalam sepak bola modern.







Tinggalkan komentar