lintaswarta.co.id, Jakarta – Bencana gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu lalu telah menyebabkan lebih dari 5.000 warga terpaksa mengungsi. Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan skala dampak yang masif terhadap kehidupan masyarakat di wilayah tersebut, dengan konsentrasi pengungsi terbanyak di Kabupaten Sikka dan Manggarai.
Di Kabupaten Sikka, tercatat 3.356 jiwa mengungsi, sebagian besar berada di GOR Samador dan sisanya tersebar di sepuluh titik pengungsian mandiri. Sementara itu, Kabupaten Manggarai juga mencatat angka pengungsi yang tinggi, yakni 2.078 jiwa. Ratusan warga lainnya juga mencari perlindungan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa, bahkan hingga ke wilayah Bima dan Kepulauan Selayar yang berada di provinsi berbeda.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar dan logistik di pengungsian menjadi prioritas utama penanganan darurat. "Para penyintas, khususnya di Kabupaten Manggarai, sangat membutuhkan bantuan mendesak berupa puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih (tandon), hingga genset," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Related Post
Gempa dahsyat yang diikuti oleh 341 kali gempa susulan ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga merenggut nyawa. Total 47 orang dilaporkan meninggal dunia, dengan korban terbanyak di Manggarai (23 jiwa) dan Manggarai Timur (17 jiwa). Selebihnya tersebar di Sikka (4 jiwa), Manggarai Barat (1 jiwa), Ende (1 jiwa), dan Nagekeo (1 jiwa). Selain itu, 101 warga juga mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan bervariasi.
Kerugian material akibat gempa ini juga sangat signifikan. Data sementara di NTT mencatat 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Puluhan fasilitas publik juga tak luput dari kerusakan parah, di antaranya 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintahan.
Menanggapi situasi darurat ini, Pemerintah Provinsi NTT sedang memproses penetapan status tanggap darurat selama 14 hari. Beberapa kabupaten terdampak, seperti Manggarai dan Ngada, telah lebih dulu menetapkan status tanggap darurat dengan durasi yang berbeda, diikuti pembentukan pos komando. Kabupaten Manggarai Timur juga menetapkan status siaga darurat. Tim gabungan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih terus bersiaga untuk pendataan dan verifikasi lanjutan. Sebuah Rumah Sakit Lapangan telah didirikan dan beroperasi di Kecamatan Reok, Manggarai, untuk layanan medis darurat. Meskipun akses jalan Larantuka-Maumere sudah terhubung, jalur Ende-Nagekeo hingga kini masih terputus, menyulitkan mobilitas logistik dan evakuasi.









Tinggalkan komentar