lintaswarta.co.id – Gelombang unjuk rasa yang melibatkan ribuan pelajar di Prancis kini tengah menjadi sorotan dunia. Bukan hanya karena eskalasi kekerasan yang meningkat, tetapi juga karena munculnya sebuah slogan unik yang secara tak terduga menjadi simbol perlawanan para siswa. Slogan yang menggabungkan unsur bahasa Arab dan bahasa gaul Prancis ini kini mulai menyebar luas melintasi batas negara hingga ke berbagai penjuru Eropa.
Aksi protes yang awalnya dipicu oleh kondisi sistem pendidikan yang memprihatinkan di Prancis, kini telah bertransformasi menjadi gerakan sosial yang lebih besar. Para pelajar turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap jam sekolah yang terlalu panjang, ruang kelas yang terlalu padat, hingga fasilitas bangunan sekolah yang rusak parah. Tak hanya itu, masalah ketidakhadiran guru yang sering terjadi juga menjadi pemantik kemarahan para siswa.
Di tengah riuhnya demonstrasi, sebuah frasa unik yakni "Bismillah, c’est les tenebres" mendadak viral. Kalimat ini secara harfiah bermakna "Dengan menyebut nama Tuhan, ini adalah kegelapan". Penggunaan kata "Bismillah" yang berasal dari bahasa Arab dipadukan dengan ungkapan bahasa gaul Prancis yang menggambarkan situasi suram. Bagi para pelajar, slogan ini merupakan bentuk sindiran tajam terhadap otoritas atau pihak yang mencoba bersikap seolah-olah memahami bahasa anak muda, namun pada kenyataannya dianggap gagal dan tidak relevan.

Related Post
Fenomena ini bermula dari sebuah tangkapan layar percakapan di aplikasi Snapchat yang beredar luas pada awal Oktober lalu. Dalam pesan tersebut, seorang pengguna bernama Mamadou menanyakan jadwal blokade sekolah menggunakan frasa tersebut. Menariknya, muncul spekulasi di kalangan pelajar bahwa pesan tersebut mungkin dikirim oleh oknum kepolisian yang sedang menyamar untuk memantau pergerakan massa, meskipun hal ini belum terverifikasi secara resmi.
Aksi protes ini sendiri tercatat bermula di wilayah Creteil, tenggara Paris, pada pertengahan September lalu. Sejak saat itu, gerakan ini meluas dengan cepat. Pada awal Oktober, dilaporkan sekitar 400 sekolah mengalami penutupan akibat aksi blokade oleh para siswa. Para demonstran menekankan bahwa krisis pendidikan ini paling berdampak buruk pada komunitas minoritas dan kawasan pinggiran yang dihuni oleh kelas pekerja.
Daya tarik slogan ini tidak berhenti di Prancis saja. Laporan dari berbagai kantor berita internasional menyebutkan bahwa simbol perlawanan ini telah menyeberang ke negara-negara tetangga. Aktivis lingkungan ternama, Greta Thunberg, bahkan dilaporkan ikut menggunakan frasa tersebut saat mengunjungi para pelajar yang melakukan aksi mogok di Seine-Saint-Denis.
Efek domino dari gerakan ini terlihat jelas di berbagai kota besar di Eropa. Slogan serupa mulai bermunculan dalam aksi demonstrasi di Brussel, Belgia, hingga ke kota Bologna dan Milan di Italia. Bahkan, siswa sekolah asal Prancis yang menempuh pendidikan di Berlin, Jerman, juga terlihat membawa spanduk dengan tulisan yang sama. Fenomena ini menunjukkan bahwa keresahan terhadap kualitas pendidikan telah menjadi isu lintas batas yang menyatukan semangat generasi muda di Eropa.









Tinggalkan komentar