Strategi Cerdas Hadapi Gejolak Pasar Saham

Moch Divan

Strategi Cerdas Hadapi Gejolak Pasar Saham

lintaswarta.co.id – Gejolak di Bursa Efek Indonesia (BEI) belakangan ini tengah menjadi perhatian serius para pelaku pasar. Isu mengenai rencana MSCI untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market telah menciptakan gelombang sentimen negatif. Dampaknya, tekanan jual yang masif terjadi, menyebabkan harga sejumlah saham merosot tajam hingga menyentuh level valuasi yang sangat rendah.

Menanggapi kondisi pasar yang tidak menentu ini, Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Pandu Sjahrir, memberikan peringatan keras bagi para investor. Ia mengimbau agar masyarakat tidak terjebak dalam euforia "saham murah" akibat koreksi harga yang dipicu oleh sentimen pasar semata.

Strategi Cerdas Hadapi Gejolak Pasar Saham
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut Pandu, anjloknya harga saham tidak boleh dijadikan satu-satunya parameter dalam mengambil keputusan investasi. Ia menekankan bahwa investor harus lebih jeli dan tidak terburu-buru melakukan aksi beli hanya karena melihat harga emiten yang sedang jatuh.

COLLABMEDIANET

"Jangan hanya melihat harga yang turun, tapi perhatikan fundamentalnya. Investor harus melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, arus kas yang sehat, tingkat utang yang terkendali, hingga kualitas tata kelola perusahaan tersebut," tegas Pandu dalam keterangannya.

Ia menjelaskan bahwa strategi investasi yang ideal adalah mencari emiten yang memiliki profitabilitas kuat namun tetap menawarkan valuasi yang menarik. Pandu memberikan gambaran nyata mengenai peluang yang masih terbuka lebar di tengah badai sentimen MSCI tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun, dari 146 emiten yang memiliki pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, terdapat 61 perusahaan yang menunjukkan kinerja luar biasa dengan Return on Equity (ROE) di atas 15 persen. Bahkan, di sektor-sektor vital seperti perbankan dan konsumsi, ditemukan perusahaan dengan ROE mencapai 20 persen, namun masih diperdagangkan dengan rasio Price to Earnings (PE) di bawah 10 kali.

Sebagai catatan bagi investor pemula, ROE merupakan indikator untuk mengukur seberapa efektif perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham. Sementara itu, rasio PE digunakan untuk membandingkan harga saham dengan laba bersih, dan Price to Book Value (PBV) digunakan untuk melihat perbandingan harga saham dengan nilai buku ekuitasnya.

Pandu mengingatkan bahwa indikator-indikator valuasi tersebut tidak bisa dibaca secara parsial atau terpisah. Seorang investor yang bijak harus mampu mengombinasikan analisis kualitas bisnis dengan harga pasar secara simultan. Koreksi harga saham yang terjadi saat ini harus dilihat secara menyeluruh sebagai bagian dari dinamika pasar, bukan sekadar sinyal beli otomatis.

"Peluang investasi sebenarnya tersebar di berbagai sektor. Intinya, Anda harus melihat kualitas bisnis dan harganya secara bersamaan, jangan hanya terpaku pada sentimen pasar yang sedang melanda," pungkasnya. Melalui pendekatan ini, diharapkan investor dapat tetap tenang dan mampu memilah aset berkualitas di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar