lintaswarta.co.id – Kondisi ekonomi di tingkat daerah menunjukkan tren yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), angka inflasi di Indonesia mengalami kenaikan secara nasional. Namun, sorotan utama tertuju pada Provinsi Sulawesi Utara yang mencatatkan lonjakan harga paling tajam dibandingkan wilayah lainnya di seluruh Indonesia.
Berdasarkan catatan statistik, inflasi nasional pada September 2026 berada di angka 3,28% secara tahunan (year-on-year). Angka ini menunjukkan tren peningkatan jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2026 yang berada di level 3,19%, maupun perbandingan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, September 2025, yang hanya menyentuh 2,65%.
Meskipun kenaikan harga terjadi secara merata di berbagai provinsi, Sulawesi Utara menjadi wilayah dengan tekanan inflasi paling ekstrem. Provinsi ini mencatatkan inflasi sebesar 7,59% (yoy). Angka ini melesat jauh jika dibandingkan dengan catatan inflasi pada Agustus 2026 yang masih berada di angka 3,99%, serta jauh lebih tinggi dibandingkan September 2025 yang hanya sebesar 1,57%. Sebaliknya, tingkat inflasi terendah di Indonesia justru ditemukan di Sumatera Selatan dengan angka 2,55%.

Related Post
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengonfirmasi fenomena ini saat memberikan keterangan di Jakarta. Ia menyebutkan bahwa meskipun seluruh provinsi di Indonesia mengalami kenaikan harga, Sulawesi Utara menempati posisi tertinggi dalam skala nasional.
Penyebab utama meledaknya inflasi di Sulawesi Utara adalah lonjakan pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mencatatkan inflasi yang sangat signifikan, yakni sebesar 16,08% dengan kontribusi sebesar 5,29%. Selain kebutuhan pokok, sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya juga ikut terkerek naik sebesar 8,56%. Tak ketinggalan, sektor transportasi dan pendidikan turut memberikan tekanan dengan masing-masing inflasi sebesar 7,01% dan 5,37%.
Secara nasional, pola kenaikan harga ini serupa dengan apa yang terjadi di Sulawesi Utara, di mana sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama pendorong inflasi dengan angka 4,37%. Selain itu, kenaikan harga pada sektor perawatan pribadi (termasuk emas perhiasan) sebesar 7,77% dan transportasi sebesar 4,84% juga turut memengaruhi daya beli masyarakat secara umum.
Jika dibedah lebih dalam, inflasi inti nasional tercatat sebesar 2,84%, naik dari angka 2,19% pada September 2025. Sementara itu, kelompok harga yang diatur pemerintah mengalami kenaikan tajam menjadi 3,25%, melonjak dari sebelumnya yang hanya 1,10%.
Beberapa komoditas yang menjadi pemicu inflasi inti meliputi emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, hingga perangkat elektronik seperti telepon seluler dan laptop. Sementara untuk kelompok harga yang diatur pemerintah, kenaikan didominasi oleh harga bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), dan bahan bakar rumah tangga. Adapun untuk kelompok harga bergejolak, komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi menjadi faktor utama yang memicu ketidakstabilan harga di pasar.






Tinggalkan komentar