Lintaswarta.co.id – Sebuah kisah luar biasa dari masa lalu kembali mencuat, menyoroti kerendahan hati seorang pemimpin besar. Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Raja Yogyakarta yang dihormati dan dikenal dekat dengan rakyatnya, pernah menciptakan kehebohan tak terduga saat ia mendadak beralih peran menjadi sopir truk pengangkut beras. Insiden yang terjadi di tengah perjuangan kemerdekaan ini bahkan membuat seorang penjual beras kaget hingga pingsan.
Peristiwa unik ini bermula ketika Sri Sultan, dengan kendaraan Land Rover pribadinya, melintasi jalan pedesaan. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang perempuan penjual beras yang tengah kesulitan mencari tumpangan menuju pasar kota. Tanpa sedikit pun curiga atau mengetahui identitas asli sang sopir, perempuan itu meminta bantuan untuk mengangkut karung-karung berasnya ke dalam truk. Dengan sigap dan tanpa ragu, Sri Sultan sendiri yang membantu mengangkat dua karung besar beras ke bak truk.
Sepanjang perjalanan menuju pasar, obrolan santai terjalin antara Raja dan penjual beras tersebut, layaknya sopir dan penumpang biasa. Hal ini diceritakan dalam otobiografi Jenderal Pranoto Reksosamodra. Setibanya di tujuan, Sri Sultan kembali menunjukkan kerendahan hatinya dengan turut membantu menurunkan karung-karung beras. Ketika penjual beras itu hendak memberikan upah sebagai imbalan, Sri Sultan menolaknya dengan halus.

Related Post
Penolakan ini justru memicu kemarahan si penjual beras, yang merasa tersinggung dan mengira sang sopir meremehkan jumlah upah yang ditawarkan. Sri Sultan kemudian memilih untuk segera berlalu, meninggalkan penjual beras yang masih menggerutu, menganggapnya sombong dan tak butuh uang. Namun, tak lama kemudian, seseorang memberitahu fakta mengejutkan kepada perempuan itu: bahwa sopir truk yang baru saja ia marahi adalah Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Kabar ini sontak membuat penjual beras tersebut syok berat dan pingsan, hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Kisah ini semakin menggarisbawahi karakter Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang legendaris. Sebagai Raja Yogyakarta sejak 1940, beliau dikenal memiliki kekayaan besar dari warisan kerajaan, namun tak pernah terlena oleh kemewahan. Sejarah mencatat kedermawanannya yang luar biasa, seperti sumbangan 6,5 juta gulden kepada pemerintah Republik Indonesia dan 5 juta gulden untuk membantu rakyat yang menderita di awal kemerdekaan. Apabila dikonversikan ke nilai saat ini, jumlah tersebut diperkirakan setara dengan Rp20-30 miliar.
Bukan hanya itu, kesederhanaannya juga terekam dalam berbagai cerita. Dalam buku ‘Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX (1982)’, disebutkan bahwa ia pernah memilih membeli es gerobakan di pinggir jalan depan Stasiun Klender, Jakarta, pada tahun 1946, meskipun bisa saja menikmati minuman di restoran mewah. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa bagi Sri Sultan, melayani rakyat adalah prioritas utama, melampaui segala gelar dan harta.
Mendengar kabar penjual beras yang pingsan, Sri Sultan segera bergegas ke rumah sakit untuk menjenguknya, menunjukkan kepeduliannya yang mendalam. Kisah Sri Sultan Hamengkubuwana IX sebagai sopir truk ini bukan sekadar anekdot sejarah, melainkan pelajaran berharga tentang kepemimpinan yang merakyat, kerendahan hati, dan pengabdian tulus kepada sesama.









Tinggalkan komentar