lintaswarta.co.id, Surabaya – Gelombang pasang atau banjir rob kembali melumpuhkan aktivitas di sejumlah kawasan pesisir Surabaya pada Rabu (15/7). Fenomena tahunan ini secara signifikan mengganggu, bahkan merendam fasilitas pendidikan seperti yang terjadi di Kecamatan Krembangan, khususnya Kalianak.
SD Yayasan Karya Putra menjadi salah satu institusi yang paling merasakan dampaknya. Guru Yuli (44) menjelaskan, proses belajar mengajar harus disesuaikan. Ketinggian air di luar sekolah mencapai 30-40 cm, memaksa siswa melepas sepatu. Bahkan, genangan di dalam kelas bisa mencapai 10-15 cm, menciptakan kondisi belajar yang jauh dari ideal. Meski demikian, pihak sekolah tidak meliburkan siswa, terutama saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung, dengan dua kelas mengalami genangan setinggi mata kaki.
Yuli menambahkan, banjir rob telah menjadi ‘langganan’ bulanan, terjadi dua hingga tiga kali sejak sekolah berdiri pada 1998. Ironisnya, guru Nanda (60) mencatat adanya peningkatan ketinggian air pasca proyek normalisasi Sungai Kalianak yang berdekatan dengan sekolah. Senada, warga Kalianak Timur, Hendro, mengungkapkan bahwa fenomena ini telah menghantui wilayah mereka selama 63 tahun, dengan genangan mencapai lebih dari setengah meter.

Related Post
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Perak Surabaya mengonfirmasi bahwa banjir rob telah merendam pesisir Surabaya sejak 12 Juli dan diperkirakan berlanjut hingga 17 Juli. Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG, Sutarno, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh siklus astronomi bulanan ekstrem, yaitu fase bulan baru yang menyebabkan pasang air laut maksimum. Ketinggian air di beberapa titik seperti Jalan Kalimas dan Kalianak mencapai 15-29 sentimeter, bahkan berpotensi mencapai 120-160 sentimeter di atas permukaan laut (DPL) di area pesisir. Puncak genangan diperkirakan terjadi antara pukul 09.00 hingga 12.00 WIB setiap harinya, mengganggu akses jalan dan memicu kemacetan.
Dampak yang ditimbulkan sangat luas, mulai dari terganggunya sektor ekonomi maritim, logistik, pariwisata, hingga mata pencarian nelayan dan petani tambak. Sutarno juga menyoroti risiko kerusakan infrastruktur akibat korosi air asin, serta ancaman kesehatan seperti penyakit kulit dan diare. Lingkungan pun tak luput, dengan pencemaran air bersih dan abrasi yang merusak ekosistem mangrove.
BMKG telah memetakan zona merah kerentanan di Surabaya (Utara, Benowo, Timur, Kenjeran, Sukolilo, Barat) dan memperingatkan meluasnya dampak ke seluruh pesisir Jawa Timur, termasuk Gresik, Lamongan, Tuban, Banyuwangi, Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo, Jember, hingga Madura. Untuk mitigasi jangka panjang, BMKG merekomendasikan pembangunan tanggul, penyediaan pompa air, perbaikan drainase, dan pelestarian hutan mangrove. Kondisi ini menuntut perhatian serius dan tindakan konkret dari berbagai pihak untuk melindungi warga dan infrastruktur pesisir.







Tinggalkan komentar