Terkuak! Pertamina Genjot Hilirisasi, Impor Minggat!

Harimurti

Terkuak! Pertamina Genjot Hilirisasi, Impor Minggat!

Lintaswarta.co.id, Jakarta – Langkah strategis untuk memperkokoh sektor hilirisasi petrokimia di kancah nasional kian gencar digalakkan oleh Pertamina Group. Melalui salah satu entitas afiliasinya, PT Polytama Propindo (Polytama), raksasa energi pelat merah ini menunjukkan komitmennya dengan memanfaatkan pasokan propylene dari PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit VI Balongan. Propylene tersebut kemudian diolah menjadi produk polypropylene yang memiliki nilai tambah tinggi, krusial bagi berbagai industri di Tanah Air.

Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), menjelaskan bahwa fasilitas kilang milik Pertamina tidak semata-mata berfokus pada produksi Bahan Bakar Minyak (BBM). Lebih dari itu, kilang-kilang ini juga berperan vital dalam menghasilkan produk intermediasi yang esensial sebagai bahan baku utama bagi industri petrokimia domestik. Menurut Baron, inisiatif ini selaras dengan visi Pertamina untuk mengoptimalkan nilai tambah dari sumber daya energi sekaligus membentengi ketahanan industri di dalam negeri.

Terkuak! Pertamina Genjot Hilirisasi, Impor Minggat!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

“Kehadiran Pertamina melalui Polytama merupakan manifestasi nyata dari peran aktif kami dalam mendorong program hilirisasi migas,” tegas Baron dalam pernyataan tertulis yang diterima Lintaswarta.co.id.

COLLABMEDIANET

Di sisi lain, Direktur PT Polytama Propindo, Dwinanto Kurniawan, menggarisbawahi posisi Polytama sebagai komponen tak terpisahkan dari ekosistem Pertamina Group yang terintegrasi penuh, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Ia menekankan bahwa Polytama bukanlah entitas yang beroperasi secara independen.

“Kami adalah mata rantai krusial dalam sistem industri nasional, menjembatani antara sektor hulu dan hilir, dari operasional kilang hingga ke ranah industri manufaktur. Integrasi semacam ini adalah pilar fundamental untuk menjamin ketahanan industri petrokimia Indonesia,” papar Dwinanto.

Perlu diketahui, pasokan bahan baku propylene vital ini berasal dari Kilang Pertamina RU VI Balongan, disalurkan melalui jaringan pipa sepanjang kurang lebih empat kilometer. Setiap tahunnya, rata-rata pasokan dari Kilang Balongan mencapai angka 250.000 ton. Propylene tersebut kemudian diproses lebih lanjut menggunakan teknologi canggih Spheripol dari LyondellBasell, menghasilkan produk polypropylene dengan standar kualitas tinggi.

Produk polypropylene hasil olahan Polytama didistribusikan dalam beragam jenis atau grade, dirancang untuk memenuhi spektrum kebutuhan yang luas, mulai dari sektor kemasan, perkakas rumah tangga, industri medis, hingga pasar ritel. Material polypropylene ini menjadi fondasi bagi berbagai industri pengolahan plastik, termasuk dalam pembuatan perkakas rumah tangga dan alat makan berbahan plastik, serta serat fiber yang esensial untuk produksi benang, dan aplikasi lainnya.

Saat ini, Polytama memiliki kapasitas produksi puncak sebesar 300.000 ton per tahun. Namun, perusahaan telah merencanakan ekspansi signifikan hingga mencapai 600.000 ton per tahun melalui pengembangan fasilitas baru, yang akan didukung penuh oleh pasokan bahan baku dari berbagai kilang Pertamina yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

“Pemanfaatan propylene yang bersumber dari kilang Pertamina ini memegang peranan strategis dalam memangkas ketergantungan kita pada impor bahan baku petrokimia, sekaligus memperkokoh fondasi industri petrokimia nasional. Ini adalah langkah konkret untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya yang kita miliki di dalam negeri,” tutup Baron.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar