Utang RI ke China Pecah Rekor, AS Terancam Digeser?

Harimurti

Utang RI ke China Pecah Rekor, AS Terancam Digeser?

Lintaswarta.co.id – Data terbaru menunjukkan bahwa pinjaman luar negeri Indonesia dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) telah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah pada Februari 2026. Fenomena ini terjadi di tengah peningkatan serupa pada utang dari Amerika Serikat (AS), namun dengan selisih yang semakin menyempit, memicu pertanyaan tentang pergeseran dominasi kreditur. Secara keseluruhan, total utang luar negeri (ULN) Indonesia per Februari 2026 tercatat sebesar US$437,9 miliar.

Menurut laporan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi April 2026 yang dipublikasikan Bank Indonesia pada Rabu (15/4/2026), posisi ULN nasional mengalami pertumbuhan 2,5% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini, jika dikonversi ke mata uang rupiah dengan asumsi kurs Rp17.130 per dolar AS, setara dengan sekitar Rp7.501,22 triliun. Jumlah ini melampaui posisi Januari 2026 yang sebesar US$434,9 miliar dengan laju pertumbuhan 1,7% yoy. Peningkatan ULN pada periode tersebut utamanya ditopang oleh utang pemerintah, sementara sektor swasta masih menunjukkan kontraksi.

Utang RI ke China Pecah Rekor, AS Terancam Digeser?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dominasi China Kian Menguat: Rekor Baru Terukir

COLLABMEDIANET

Fokus utama sorotan adalah lonjakan utang Indonesia kepada China, yang pada Februari 2026 mencapai US$25,574 miliar. Angka ini menandai kenaikan signifikan dari US$25,123 miliar pada Januari 2026, sekaligus memecahkan rekor tertinggi sebelumnya yang tercatat pada Agustus 2025 di kisaran US$25,048 miliar. Tren kenaikan ini mengukuhkan posisi China sebagai salah satu kreditur utama yang perannya terus membesar dalam lanskap pembiayaan luar negeri Indonesia.

Jarak dengan AS Kian Tipis

Di sisi lain, utang luar negeri Indonesia dari Amerika Serikat juga mengalami peningkatan, mencapai US$27,803 miliar pada Februari 2026, naik dari US$27,066 miliar di bulan sebelumnya. Meskipun AS masih memegang posisi sebagai kreditur terbesar dengan nilai pinjaman yang lebih tinggi, selisihnya dengan China kini menyempit drastis, hanya sekitar US$2,23 miliar. Analisis tren menunjukkan bahwa jika pola ini berlanjut, bukan tidak mungkin China akan melampaui AS sebagai kreditur terbesar Indonesia dalam waktu dekat.

Mata Uang Yuan Ikut Pecah Rekor

Kenaikan utang dari China ini sejalan dengan peningkatan eksposur Indonesia terhadap mata uang Yuan Tiongkok (CNY). Posisi ULN dalam denominasi Yuan pada Februari 2026 mencapai US$15,356 miliar, melampaui US$14,977 miliar di Januari 2026 dan rekor sebelumnya di Desember 2025 (US$14,775 miliar). Ini menegaskan semakin eratnya hubungan pembiayaan dan transaksi antara kedua negara.

Struktur ULN Tetap Sehat, BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi

Meskipun terjadi lonjakan, Bank Indonesia menegaskan bahwa struktur utang luar negeri Indonesia hingga Februari 2026 masih terjaga sehat. Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di angka 29,8%, dengan mayoritas komposisi (84,9%) didominasi utang jangka panjang. Struktur ini dinilai mampu menjaga risiko pembiayaan ulang tetap terkendali di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Dalam rangka menjaga agar struktur ULN sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN," demikian pernyataan resmi BI. Lebih lanjut, BI menyatakan bahwa ULN akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan, sembari meminimalkan risiko terhadap stabilitas perekonomian.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar