Wartawan Banting Setir Panen Omzet Puluhan Juta

Harimurti

Wartawan Banting Setir Panen Omzet Puluhan Juta

Lintaswarta.co.id melaporkan, tahun 2020 menjadi titik balik bagi Kusnaedi (46), seorang jurnalis di Tangerang, Banten. Kala itu, pandemi Covid-19 mengguncang industri media, memaksa banyak perusahaan melakukan efisiensi. Kusnaedi, yang saat itu berprofesi sebagai kontributor televisi swasta, turut merasakan dampaknya. Namun, di tengah ketidakpastian, ia justru melihat secercah harapan: lahan tidur di Desa Cileles, Kabupaten Lebak, kampung halamannya.

Ide ini, seperti diceritakannya kepada lintaswarta.co.id, bermula dari keprihatinannya melihat petani lokal kesulitan memasarkan hasil panen. "Banyak petani di kampung yang kebingungan mendistribusikan hasil pertanian. Itu awalnya mimpi saya," ujar pria yang akrab disapa Bang Baduy ini. Berbekal pengalaman dan jaringan selama menjadi jurnalis, Kusnaedi tak lantas menyerah. Ia justru mempelajari rantai distribusi pertanian di Banten dan aktif mengikuti berbagai pelatihan budidaya pisang.

Wartawan Banting Setir Panen Omzet Puluhan Juta
Sumber Istimewa : akcdn.detik.net.id

Bersama kelompok tani Jawara Tani Rangkas (Jatanras), Kusnaedi berhasil memperoleh Hak Guna Usaha (HGU) dari Perhutani untuk mengelola lahan seluas lima hektare selama 35 tahun. Lahan ini, yang tadinya terbengkalai, disulap menjadi kebun percontohan. Dengan mengajak sembilan warga kampung, mereka memilih menanam pisang Cavendish, varietas unggulan dengan nilai jual tinggi dan sesuai kondisi lingkungan. Namun, pembukaan lahan tidur bukan tanpa hambatan. "Biaya operasional pembukaan lahan cukup besar, sekitar Rp100 juta per hektare hingga panen," jelasnya, mendorong mereka menggandeng berbagai instansi terkait.

COLLABMEDIANET

Bibit pisang unggulan didatangkan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), ditanam dengan jarak ideal, menghasilkan sekitar 2.000 pohon per hektare. Panen perdana pada 2021, kini rutin dilakukan dua minggu sekali, menghasilkan rata-rata lima ton pisang. Pemasaran awalnya menggandeng perusahaan agrobisnis dan pasar tradisional. Perkembangan signifikan terjadi pada 2025, ketika Kusnaedi dipercaya memasok pisang untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banten. "Alhamdulillah, setelah proses panjang, kini dipercaya memasok kebutuhan MBG," ucap ayah tiga anak ini. Dengan omzet bulanan mencapai Rp30 juta, usaha ini terus berkembang. Pada 2026, lahan garapan telah mencapai 30 hektare dengan 80 anggota. Namun, ia berharap dukungan pemerintah untuk alat pertanian, pupuk, dan perbaikan akses jalan, terutama saat musim hujan yang menghambat distribusi.

Bagi Kusnaedi, bertani bukan sekadar pelarian dari dampak pandemi, melainkan upaya nyata menciptakan peluang ekonomi dan membantu petani lokal mendapatkan akses pasar lebih baik. Uniknya, di sela kesibukan mengelola kebun, ia tetap aktif sebagai kontributor jurnalis televisi dan bagian dari Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia (IJTI) Banten, membuktikan bahwa semangat dan inovasi dapat mengubah tantangan menjadi keberhasilan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar