Lintaswarta.co.id melaporkan, pasar energi global kini berada di titik kritis, semakin mendekati jurang krisis yang lebih dalam. Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mengganggu pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk, terutama dengan blokade Selat Hormuz yang tak kunjung usai. Meskipun dampaknya belum sepenuhnya terasa di negara-negara Barat, tekanan sesungguhnya telah menumpuk dan berpotensi memicu bencana global jika jalur vital tersebut tidak segera dibuka kembali. Situasi genting ini terjadi pada 23 April 2026.
Optimisme sempat menyelimuti pasar pada 17 April lalu ketika Menteri Luar Negeri Iran mengklaim Selat Hormuz "sepenuhnya terbuka," menyebabkan harga minyak Brent anjlok 10% menjadi US$90 per barel. Namun, harapan itu pupus dalam hitungan jam setelah Iran membalikkan pernyataan dan menyerang kapal tanker India, membuat harga Brent kembali naik sekitar 5% pada hari perdagangan berikutnya.

H

Related Post


Tinggalkan komentar