Lintaswarta.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkapar pada perdagangan Jumat (24/4/2026), anjlok lebih dari 1% dan menyeret pasar modal domestik ke zona merah. Pelemahan signifikan ini tak lepas dari bayang-bayang ketegangan geopolitik global yang kian memanas, khususnya di Timur Tengah.
Hingga pukul 09.47 WIB, indeks kebanggaan bursa Tanah Air tersebut ambles 113,71 poin atau setara 1,54%, mendarat di level 7.264,89. Sentimen negatif begitu dominan, tercermin dari hanya 118 saham yang berhasil menguat, berbanding terbalik dengan 527 saham yang terperosok, dan 95 saham stagnan. Total nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 6,25 triliun, melibatkan 14,67 miliar saham dalam 827.676 kali transaksi. Imbasnya, kapitalisasi pasar ikut tergerus, menyusut menjadi Rp 13.013 triliun.

Koreksi masif ini merata di seluruh sektor perdagangan, dengan sektor infrastruktur, konsumer, properti, dan energi mencatatkan pelemahan paling dalam. Saham-saham berkapitalisasi besar atau ‘blue chip’ yang selama ini menjadi penopang utama, justru kompak menjadi ‘penyeret’ kinerja IHSG. Beberapa di antaranya adalah BBCA, BBRI, AMMN, DSSA, dan TLKM.

Related Post
Analis memperkirakan, tekanan terhadap IHSG akan terus berlanjut hingga akhir pekan ini, dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak global dan penguatan indeks dolar AS, dua faktor yang secara historis membebani pasar saham dan nilai tukar rupiah.
Harga minyak Brent, misalnya, kembali melesat lebih dari 3%, ditutup di level US$ 105,07 per barel, angka tertinggi sejak 7 April 2026. Senada, indeks dolar AS melonjak tajam ke 98,77, level puncaknya sejak 9 April 2026. Kenaikan harga minyak berjangka AS juga tak kalah signifikan, naik sekitar 1,23% menjadi sekitar $97,03 per barel.
Di sisi lain, pasar saham Asia-Pasifik menunjukkan pergerakan yang beragam. Investor cenderung berhati-hati meskipun ada kabar baik mengenai perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama tiga minggu. Kesepakatan ini dicapai setelah pertemuan di Gedung Putih dengan pejabat tinggi AS, yang diumumkan langsung oleh Presiden Donald Trump melalui unggahan di Truth Social. Washington juga berjanji akan membantu Lebanon memperkuat pertahanannya terhadap Hizbullah.
Meski demikian, beberapa bursa regional tetap mampu menguat. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,71%, diikuti oleh Topix yang menguat 0,30%. Kenaikan ini didukung oleh data inflasi inti Jepang yang meningkat menjadi 1,8% pada Maret, pertama kalinya dalam lima bulan, meskipun kekhawatiran energi akibat konflik di Timur Tengah masih membayangi. Sementara itu, Kospi Korea Selatan turun 0,23%, indeks Kosdaq relatif datar, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong lebih rendah, dan S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,29%.
Situasi serupa terjadi di pasar saham AS semalam. Wall Street ditutup melemah pada Kamis, dipimpin oleh penurunan saham perangkat lunak dan kenaikan harga minyak, seiring dengan ketidakpastian investor terhadap arah konflik di Timur Tengah. Indeks S&P 500 ditutup turun 0,41% di 7.108,40, setelah sempat mencapai rekor tertinggi intraday baru. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi teknologi juga anjlok 0,89% menjadi 24.438,50, meskipun sempat mencetak rekor baru. Sementara itu, Indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 179,71 poin atau 0,36%, berakhir di 49.310,32.


Tinggalkan komentar