Lintaswarta.co.id, Jakarta – Sebuah laporan eksklusif yang diterima Lintaswarta.co.id mengungkap bahwa badan intelijen Amerika Serikat (AS) sedang melakukan kajian mendalam mengenai potensi respons Iran. Kajian ini dipicu oleh kemungkinan Presiden Donald Trump secara sepihak mendeklarasikan kemenangan dalam konflik yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya beban politik yang menghimpit Gedung Putih, menyusul ribuan korban jiwa yang jatuh dalam perang tersebut.
Para penasihat senior di pemerintahan AS dilaporkan sangat khawatir. Perang yang tidak populer ini dikhawatirkan dapat menjadi bumerang bagi Partai Republik, berpotensi menyebabkan kekalahan telak dalam pemilihan sela (midterm) yang akan datang. Oleh karena itu, komunitas intelijen diminta untuk menganalisis implikasi jika Trump memutuskan untuk menarik diri dari medan konflik.

"Tujuan utama analisis ini adalah untuk memahami secara komprehensif dampak dari potensi penarikan diri Trump dari konflik, yang dikhawatirkan dapat berujung pada kekalahan besar bagi Republik di pemilihan sela nanti," ujar seorang sumber intelijen yang mengetahui masalah ini.

Related Post
Meskipun belum ada keputusan final, deeskalasi cepat dianggap dapat meredakan tekanan politik yang kini membebani sang presiden. Namun, langkah ini bukannya tanpa risiko besar. Ada kekhawatiran serius bahwa Iran bisa merasa di atas angin, memanfaatkan situasi untuk membangun kembali program nuklir dan rudal mereka, yang selama ini menjadi ancaman bagi sekutu AS di kawasan.
Sumber intelijen lebih lanjut menjelaskan, jika Trump mendeklarasikan kemenangan namun tetap mempertahankan kehadiran pasukan besar-besaran, Teheran kemungkinan besar akan menafsirkannya sebagai taktik negosiasi belaka. Sebaliknya, skenario penarikan penuh pasukan AS akan dianggap oleh Iran sebagai kemenangan mutlak bagi mereka. "Jika Trump menyatakan kemenangan dan AS menarik pasukannya dari kawasan, Iran kemungkinan besar akan melihatnya sebagai kemenangan telak," tambah sumber tersebut.
Hingga kini, biaya politik yang harus ditanggung Trump sudah sangat tinggi. Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa kampanye militer ini sangat tidak populer di kalangan warga Amerika, dengan hanya 26% responden yang merasa perang ini sepadan dengan pengorbanannya. Di sisi ekonomi, penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu lonjakan harga energi global, termasuk harga bensin di SPBU Amerika Serikat.
Menanggapi situasi ini, Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan komitmen pemerintah terhadap keamanan nasional. Ia menyatakan bahwa pemerintah tidak akan terburu-buru mengambil kesepakatan yang merugikan. Kelly juga mengulang posisi tegas Presiden Trump: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. "Presiden hanya akan menandatangani kesepakatan yang mengutamakan keamanan nasional AS, dan dia telah menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir," tegas Kelly.
Sementara itu, opsi militer seperti serangan udara lanjutan terhadap pemimpin politik dan militer Iran masih tetap dipertimbangkan. Namun, kemungkinan serangan darat ke daratan Iran kini dinilai jauh lebih kecil dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Di sisi lain, Iran dilaporkan telah memanfaatkan masa gencatan senjata sejak 8 April untuk memperbaiki infrastruktur militer, peluncur rudal, dan drone mereka yang sebelumnya hancur akibat pemboman AS dan Israel.
(tps/sef)


Tinggalkan komentar