Terungkap! China Kunci Damai Konflik Iran?

Harimurti

Lintaswarta.co.id melaporkan bahwa di tengah kebuntuan perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat, sorotan kini beralih ke China. Beijing disebut-sebut semakin dilirik untuk memainkan peran mediator yang lebih substansial, bahkan menjadi kunci penyelesaian konflik yang telah lama berlarut-larut.

Harapan besar ini datang langsung dari Teheran, seperti diungkapkan oleh Mohamed Amersi, seorang filantropis dan pengusaha yang memiliki kedekatan dengan negosiator Iran. "Iran benar-benar menginginkan China," kata Amersi, sebagaimana dikutip dari Newsweek pada Selasa (28/4/2026). Menurutnya, jika China ingin diakui sebagai kekuatan global yang sedang naik daun, mereka harus bertindak. Ini berarti menyampaikan kebenaran kepada Iran, kemudian berdialog dengan AS dari posisi saling percaya. Amersi bahkan menyarankan China dapat mengambil alih uranium yang diperkaya tinggi milik Iran, sebuah langkah yang berpotensi mengurangi risiko pengembangan senjata nuklir.

Terungkap! China Kunci Damai Konflik Iran?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meskipun gencatan senjata telah berhasil dicapai dalam konflik yang sempat mengguncang ekonomi global akibat gangguan ekspor minyak Timur Tengah, negosiasi antara Washington dan Teheran masih berada di titik beku. Kedua belah pihak bersikukuh pada tuntutan masing-masing. Pemerintahan Presiden Donald Trump mendesak Iran untuk menghentikan pengayaan uranium, membatasi program rudal, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi. Sebaliknya, Iran menuntut kompensasi atas serangan militer yang dilancarkan AS dan Israel sejak perang pecah pada 28 Februari.

COLLABMEDIANET

Di tengah situasi pelik ini, China sebelumnya telah memainkan peran di balik layar dalam mendorong tercapainya gencatan senjata, sebuah langkah yang dinilai telah meningkatkan posisi diplomatik Beijing dalam persaingannya dengan Washington. Amersi berpendapat bahwa China memiliki potensi besar untuk menjadi kunci solusi. Selain potensi mengambil alih uranium Iran, Beijing juga dapat menawarkan kerangka kerja baru terkait program nuklir Iran, sekaligus mengaitkan investasi yang sangat dibutuhkan Teheran dengan upaya de-eskalasi konflik.

Potensi peran strategis ini diperkirakan akan menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan puncak antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pada Mei mendatang. Henry Huiyao Wang, pendiri Center for China and Globalization, melihat peluang China sebagai mediator cukup besar, asalkan kedua pihak, baik AS maupun Iran, sama-sama memiliki keinginan untuk meredakan ketegangan.

Namun, peran mediasi China tidak datang tanpa risiko. Akademisi Universitas Bahasa dan Budaya Beijing, Shou Huisheng, mengingatkan bahwa Beijing akan berhitung matang agar tidak merusak hubungan strategisnya dengan Amerika Serikat. "AS tetap lebih penting bagi China. Prioritas utama adalah menjaga hubungan agar tidak terjadi konflik besar," jelasnya.

Di sisi lain, konflik Iran juga berdampak langsung pada kepentingan energi China. Meskipun menjadi pembeli utama minyak Iran, Beijing dinilai masih memiliki sumber pasokan alternatif serta cadangan energi yang memadai, ditambah dengan percepatan adopsi kendaraan listrik di dalam negeri yang mengurangi ketergantungan.

Dengan dinamika yang kompleks tersebut, isu Iran diperkirakan akan menjadi salah satu fokus utama dalam pertemuan puncak Trump dan Xi. Selain itu, kedua negara raksasa ini juga akan membahas isu-isu global lainnya seperti konflik Ukraina, situasi di Taiwan, hingga ketegangan perdagangan dan teknologi yang terus membayangi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar