lintaswarta.co.id melaporkan, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyoroti peran fundamental masyarakat sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, kesadaran serta partisipasi aktif warga dalam menjaga ekosistem hutan terbukti menjadi faktor penentu keberhasilan. Raja Juli bahkan menunjuk lanskap Bujang Raba di Jambi sebagai teladan nyata, sebuah "oase" di tengah tantangan karhutla yang melanda wilayah lain seperti Kalimantan dan Sumatera Selatan.
Kondisi di Bujang Raba, yang berhasil dijaga dari ancaman karhutla, menunjukkan bahwa pemberdayaan dan keterlibatan masyarakat dapat memperkuat strategi pencegahan. Keberadaan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa-desa menjadi elemen krusial dalam menjaga kelestarian hutan. Pemerintah, lanjut Raja Juli, juga berencana membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) yang akan berbasis di tingkat desa, guna mendukung inisiatif serupa.
Lebih dari sekadar pencegahan karhutla, Bujang Raba juga mencatatkan sejarah sebagai kelompok perhutanan sosial pertama yang memperoleh persetujuan untuk terlibat dalam perdagangan karbon di sektor kehutanan. Raja Juli menekankan bahwa skema perdagangan karbon ini harus memastikan manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh pemegang konsesi besar, melainkan juga dapat diakses oleh perhutanan sosial, masyarakat hukum adat, dan desa hutan yang turut menjaga kawasan.

Related Post
Di sisi lain, Raja Juli menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat harus berjalan seiring dengan penegakan hukum yang tegas untuk mencegah aktivitas ilegal di kawasan hutan. Kementerian Kehutanan terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, dan Direktorat Penegakan Hukum (Gakkum) siap melakukan patroli jika ditemukan pelanggaran. Kombinasi kesadaran masyarakat yang berdaya dan penegakan hukum yang efektif diharapkan mampu mengeliminasi segala bentuk aktivitas ilegal.
Perkembangan penanganan karhutla di Jambi menunjukkan tren yang sangat positif. Berdasarkan pemantauan per 27 September, jumlah titik api (hotspot) yang sebelumnya mencapai ratusan kini berhasil ditekan hingga tersisa hanya lima titik. Raja Juli menekankan pentingnya semangat gotong royong antara pemerintah dan masyarakat untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi positif ini.









Tinggalkan komentar