lintaswarta.co.id – Suasana mencekam dan penuh ketegangan menyelimuti Kota Ujjain, India, menyusul rencana pemerintah setempat untuk membongkar sebagian bangunan Masjid Shahi. Rencana pelebaran jalan yang dimaksud bertujuan untuk mempersiapkan infrastruktur menyambut festival ziarah Hindu besar, Simhastha Kumbh Mela, yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2028 mendatang.
Aksi protes besar-besaran pecah setelah warga Muslim merasa hak tempat ibadah mereka terancam. Situasi semakin memanas ketika aparat keamanan turun tangan untuk membubarkan massa, yang berujung pada bentrokan fisik antara demonstran dan petugas kepolisian.
Zeeshan Khan, salah satu warga Muslim yang terlibat langsung dalam aksi tersebut, mengungkapkan betapa beratnya tekanan psikologis yang dialami komunitasnya. Ia mengaku tidak bisa tidur selama beberapa malam terakhir karena rasa cemas yang mendalam. Ratusan warga Muslim bahkan memilih untuk berjaga di luar masjid sepanjang malam guna menghalau alat berat agar tidak menyentuh bangunan suci tersebut.

Related Post
Persoalan ini bermula sekitar dua bulan lalu saat otoritas kota mengeluarkan surat pemberitahuan terkait pengambilalihan sebagian lahan masjid untuk kepentingan proyek jalan. Pemerintah kota sempat memberikan tenggat waktu hingga 10 September bagi pengelola masjid untuk melakukan pembongkaran secara mandiri. Jika tidak dipenuhi, pemerintah mengancam akan mengambil tindakan tegas.
Upaya hukum pun telah ditempuh oleh pihak pengelola masjid melalui Pengadilan Tinggi setempat. Namun, gugatan untuk menghentikan pembongkaran tersebut ditolak oleh hakim. Pengadilan berargumen bahwa kepentingan publik, yakni kelancaran arus lalu lintas bagi jutaan peziarah Hindu pada 2028, harus diprioritaskan di atas kepentingan lainnya.
Ketegangan mencapai puncaknya pada Minggu malam ketika buldoser mulai mendekati kawasan Masjid Shahi di Chhatri Chowk. Meskipun sempat ada negosiasi mengenai batas jarak pembongkaran, situasi justru meledak menjadi kericuhan. Polisi dilaporkan melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa yang mulai melemparkan batu. Bentrokan ini mengakibatkan sedikitnya 12 orang terluka dan sejumlah pria ditangkap oleh pihak berwenang.
Dalam kondisi terdesak dan demi menghindari kerusakan yang lebih parah oleh alat berat, komite masjid akhirnya mengambil keputusan pahit. Mereka sepakat untuk membongkar sebagian platform bangunan menggunakan tangan mereka sendiri dengan palu dan batang besi. "Kami menghancurkannya dengan tangan kami sendiri. Ini sangat menyakitkan bagi kami," ujar Khan dengan nada getir.
Konflik di Ujjain ini tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi juga memicu gelombang solidaritas di New Delhi. Berbagai organisasi Muslim dan tokoh agama melakukan demonstrasi untuk mengecam tindakan tersebut. Mereka menilai bahwa pembongkaran tempat ibadah secara sepihak merupakan ancaman serius terhadap supremasi hukum dan perlindungan konstitusional di India.
Banyak pihak menilai bahwa insiden ini merupakan bagian dari pola politik yang lebih luas di wilayah yang dikuasai oleh Partai Bharatiya Janata (BJP). Tuduhan mengenai penghapusan jejak sejarah Muslim melalui pembongkaran masjid, madrasah, dan situs keagamaan lainnya terus membayangi stabilitas sosial di negara tersebut. Saat ini, pemerintah telah menutup kawasan Masjid Shahi dan mengerahkan personel keamanan dalam jumlah besar untuk mencegah konflik susulan.








Tinggalkan komentar