lintaswarta.co.id – Kawasan Rancaekek di Kabupaten Bandung kini tengah menjadi sorotan terkait potensi risiko geologi yang mengintai penduduknya. Di balik aktivitas ekonomi dan pemukiman yang padat, tersimpan sebuah fakta ilmiah mengenai karakteristik tanah yang dapat menjadi ancaman serius saat terjadi guncangan gempa bumi. Fenomena ini bukan sekadar isu teknis, melainkan sebuah peringatan mengenai kondisi alam yang telah ada sejak ribuan tahun silam.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) mengungkapkan bahwa pemahaman mengenai kondisi tanah di wilayah tersebut sangat krusial. Berdasarkan hasil kajian mendalam, wilayah yang memiliki awalan nama "Ranca" seperti Rancaekek, sebenarnya memiliki sejarah geologis sebagai kawasan rawa atau bagian dari danau purba. Hal ini menyebabkan lapisan tanah di sana memiliki tekstur yang lunak dan menyerupai bubur.
Kepala ORKM BRIN, Luki Subehi, menjelaskan bahwa kondisi tanah yang lunak ini memiliki konsekuensi fatal dalam mitigasi bencana. Ketika terjadi gempa bumi, tanah dengan karakteristik seperti ini cenderung mengalami amplifikasi atau penguatan guncangan, yang dapat meningkatkan risiko kerusakan bangunan dan kerugian jiwa. "Kondisi tersebut membuat kawasan tersebut berisiko mengalami pergerakan saat terjadi guncangan," ujar Luki dalam sebuah kesempatan pameran riset bertajuk "Setanah, Tak Diam" di Bandung.

Related Post
Menariknya, BRIN menekankan bahwa peringatan mengenai bahaya ini sebenarnya sudah tersirat dalam kearifan lokal masyarakat melalui toponimi atau penamaan wilayah. Nama "Rancaekek" sendiri merupakan pengingat sejarah bahwa daerah tersebut dulunya adalah lahan basah. Sayangnya, seiring berjalannya waktu dan panjangnya jeda antar gempa besar yang bisa mencapai dua hingga tiga generasi, ingatan kolektif masyarakat mengenai karakteristik lingkungan ini perlahan mulai memudar.
Untuk mengatasi hal tersebut, BRIN melakukan pendekatan inovatif dengan memadukan hasil riset kebumian dengan unsur seni. Langkah ini diambil agar informasi mengenai mitigasi bencana tidak terasa kaku dan membosankan, melainkan dapat diterima secara interaktif oleh masyarakat luas serta para pembuat kebijakan di pemerintah daerah. Tujuannya adalah untuk menyatukan visi dalam menghadapi ancaman bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Indonesia memang secara geografis berada di jalur sabuk vulkanik dan dikelilingi oleh berbagai sesar aktif. Oleh karena itu, edukasi mengenai kesiapsiagaan bencana harus dilakukan secara masif hingga ke tingkat akar rumput. BRIN menegaskan bahwa tinggal di wilayah rawan bencana bukanlah alasan untuk hidup dalam ketakutan atau pesimisme. Sebaliknya, pemahaman yang baik terhadap kondisi alam harus menjadi landasan untuk membangun pola hidup yang tangguh dan siap siaga.
Masyarakat diharapkan mampu hidup berdampingan dengan risiko bencana melalui langkah-langkah mitigasi yang tepat. Dengan memahami bahwa tanah yang mereka pijak memiliki karakteristik khusus, kesadaran untuk membangun infrastruktur yang lebih aman dan prosedur evakuasi yang matang dapat terus ditingkatkan demi keselamatan bersama di masa depan.







Tinggalkan komentar