lintaswarta.co.id – Kabar mengejutkan datang dari pasar modal tanah air menyusul langkah agresif perusahaan asal Singapura, Saiko Consultancy Pte. Ltd., yang berencana melakukan aksi korporasi besar terhadap PT Hassana Boga Sejahtera Tbk. (NAYZ). Perusahaan yang sebelumnya bergerak di industri makanan bayi ini kini bersiap menyambut babak baru di bawah kendali investor asing melalui skema penawaran tender wajib (mandatory tender offer).
Berdasarkan data keterbukaan informasi yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), Saiko Consultancy melalui anak perusahaannya, PT Saiko Consultancy Grand (SCG), telah menyiapkan dana jumbo mencapai Rp87,67 miliar. Dana fantastis tersebut dialokasikan untuk menyerap hingga 1,17 miliar lembar saham NAYZ, atau setara dengan 45,84% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.
Dalam rencana aksi korporasi ini, Saiko menawarkan harga beli sebesar Rp75 per saham. Angka ini tergolong menarik bagi para pemegang saham ritel, mengingat harga penawaran tersebut telah dibulatkan dari rata-rata harga perdagangan harian tertinggi NAYZ selama 90 hari terakhir sebelum pengumuman akuisisi, yakni sebesar Rp74,45 per saham.

Related Post
Proses penawaran tender ini dijadwalkan akan berlangsung selama satu bulan penuh, terhitung mulai tanggal 5 Oktober hingga 3 November 2026. Bagi para investor yang memutuskan untuk berpartisipasi dalam penawaran ini, pembayaran atas saham yang dilepas dijadwalkan akan cair paling lambat pada 10 November 2026.
Langkah ini merupakan buntut dari pengambilalihan saham NAYZ yang dilakukan Saiko Consultancy pada 19 Agustus 2026 lalu. Saat itu, perusahaan asal Singapura tersebut telah lebih dulu membeli 750 juta saham atau sekitar 29,41% milik PT Asia Intrainvesta, yang merupakan pengendali lama NAYZ, dengan harga Rp23,5 per saham. Jika seluruh penawaran tender wajib ini terserap habis, maka total kepemilikan Saiko beserta SCG di NAYZ diproyeksikan akan melonjak drastis hingga mencapai 75,26% atau sekitar 1,92 miliar saham.
Menariknya, Saiko tidak hanya sekadar ingin memiliki saham, tetapi juga membawa visi transformasi bisnis yang signifikan. Pihak pengendali baru mengungkapkan bahwa pengembangan usaha NAYZ ke depan akan difokuskan pada sektor telekomunikasi dan teknologi. Hal ini sejalan dengan kompetensi inti yang dimiliki oleh Saiko Consultancy.
Untuk merealisasikan visi tersebut, NAYZ berpotensi melakukan perubahan lini bisnis, termasuk kemungkinan penambahan kegiatan usaha baru. Strategi pengembangan akan dilakukan melalui mekanisme inbreng (pemasukan modal dalam bentuk non-tunai) maupun pengalihan saham perusahaan lain ke dalam NAYZ. Bahkan, terdapat rencana untuk mengalihkan aset bisnis saat ini kepada pihak lain guna memberi ruang bagi ekspansi teknologi yang lebih masif.
Meski akan ada perubahan arah bisnis yang cukup kontras dari industri makanan bayi ke sektor teknologi, Saiko menegaskan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk melakukan go private atau menghapus pencatatan saham NAYZ dari bursa. Selain itu, kebijakan dividen dan status perseroan sebagai perusahaan terbuka dipastikan akan tetap berjalan seperti biasa. Langkah ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah jangka panjang bagi seluruh pemegang saham NAYZ.








Tinggalkan komentar