Strategi Baru Cegah Harga Nikel Anjlok

Harimurti

Strategi Baru Cegah Harga Nikel Anjlok

lintaswarta.co.id – Pemerintah Indonesia tengah serius mengkaji langkah strategis untuk menyelamatkan industri pertambangan nasional dari ancaman kelebihan pasokan atau oversupply. Salah satu opsi yang kini tengah dipertimbangkan adalah kebijakan moratorium atau penghentian sementara pembangunan fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter) nikel yang hanya mampu menghasilkan produk setengah jadi.

Langkah drastis ini muncul sebagai respons atas kondisi pasar nikel global yang sedang mengalami kejenuhan. Akibat melimpahnya pasokan di pasar internasional, harga nikel dunia terus mengalami tren penurunan yang cukup signifikan. Jika dibiarkan tanpa kendali, kondisi ini dikhawatirkan akan merugikan pendapatan negara dan kesejahteraan para pelaku industri dalam negeri.

Strategi Baru Cegah Harga Nikel Anjlok
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa persoalan utama terletak pada jenis produk yang dihasilkan oleh smelter-smelter di Indonesia. Saat ini, mayoritas smelter nikel yang beroperasi di tanah air masih berada pada tahap produksi bahan setengah jadi, dengan persentase mencapai 50 hingga 60 persen.

COLLABMEDIANET

Bahlil menjelaskan bahwa akumulasi dari produksi produk setengah jadi ini telah menciptakan surplus pasokan hingga mencapai angka 2,5 juta ton. Angka yang sangat besar ini menjadi penyebab utama anjloknya harga nikel di pasar global. Oleh karena itu, pemerintah ingin mengalihkan fokus dari sekadar memproduksi bahan mentah atau setengah jadi menuju industri hilir yang menghasilkan produk akhir bernilai tambah tinggi.

"Kondisi saat ini adalah oversupply, itulah mengapa harganya sedang jatuh. Kami sedang mempertimbangkan untuk meminimalisir industri yang hanya menghasilkan produk setengah jadi. Bahkan, ada kemungkinan kami akan melakukan moratorium. Fokus utama kita ke depan adalah mendorong industri yang langsung menghasilkan produk hilir," ujar Bahlil dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah akan mengambil peran lebih aktif dalam mengatur volume produksi nasional. Tujuannya agar komoditas tambang Indonesia tidak "dibuang" dengan harga murah saat pasar sedang jenuh. Meskipun secara teori kapasitas terpasang smelter di Indonesia sangat besar, pemerintah akan mengatur tingkat operasional riil di lapangan agar tetap sejalan dengan dinamika permintaan dan penawaran (supply and demand) global.

"Misalnya kapasitas terpasang ada 10, namun selama terjadi kelebihan pasokan, produksi tidak akan kita biarkan mencapai angka 10. Kita akan atur secara terukur. Jika kita terus mengikuti permintaan smelter tanpa kendali, harga komoditas kita pasti akan jatuh," tambahnya.

Selain untuk menjaga stabilitas harga dan mengoptimalkan penerimaan negara, kebijakan pengendalian produksi ini juga berkaitan erat dengan aspek keberlanjutan lingkungan. Bahlil mengingatkan bahwa mineral seperti nikel adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Berbeda dengan sektor pertanian yang bisa ditanam kembali, sekali nikel diambil dari perut bumi, ia akan habis.

"Kita tidak ingin barang kita dijual murah karena kita membanjiri pasar. Nikel dan batu bara itu diambil dan tidak bisa tumbuh lagi. Jadi, kita harus menjaga keberlanjutan ini demi masa depan bangsa," pungkasnya. Melalui langkah ini, pemerintah berharap industri hilirisasi Indonesia tidak hanya tumbuh secara kuantitas, tetapi juga secara kualitas dan nilai ekonomi jangka panjang.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar